kliping kisah Nabi dan Rasul


Nama :
1.
Anisa Nur Kholifah ( VIII A/ 04)
2.
Annisa Janatri Kusumaningrum ( VIII A/ 05)
3.
Muhammad Tito Abdul Aziz ( VIII A/ 18)
4.
Novendra Nur
Rohmad ( VIII A/ 17)
KISAH RASUL-RASUL ULUL ‘AZMI
1)
NABI NUH AS
Nabi Nuh adalah nabi keempat
sesudah Adam, Syith dan Idris dan keturunan kesembilan dari Nabi Adam. Ayahnya
adalah Lamik bin Metusyalih bin Idris.
Dakwah Nabi Nuh Kepada Kaumnya
Nabi Nuh menerima wahyu kenabian dari Allah dalam masa "fatrah" masa kekosongan
di antara
dua rasul di mana biasanya manusia secara berangsur-angsur melupakan ajaran
agama yang
dibawa nabi yang meninggalkan mereka dan kembali bersyirik
meninggalkan
amal kebajikan, melakukan kemungkaran dan kemaksiatan di bawah pimpinan
Iblis.
Demikianlah kaum Nabi Nuh tidak luput dari proses tersebut, sehingga ketika Nabi
Demikianlah kaum Nabi Nuh tidak luput dari proses tersebut, sehingga ketika Nabi
Nuh datang,
mereka sedang menyembah berhala ialah patung yang dibuat mereka sendiri
disembahnya
sebagai tuhan yang dapat membawa kebaikan dan manfaat serta menolak segala
kesengsaraan
dan kemalangan. Berhala-berhala diberinya nama-nama yang silih berganti
menurut kehendak
dan selera kebodohan mereka. Kadang-kadang mereka namakan berhala
mereka "Wadd
" dan " Suwa " kadangkala " Yaguts " dan bila sudah
bosan digantinya dengan
nama "Yatuq
" dan " Nasr ".
Nabi Nuh yang dikurniakan Allah
dengan sifat-sifat yang patut dimiliki oleh seorang nabi, fasih dan tegas dalam
kata-katanya, bijaksana dan sabar dalam tindak-tanduknya melaksanakan tugas
risalahnya kepada kaumnya dengan penuh kesabaran dan kebijaksanaan dengan cara
yang lemah lembut mengetuk hati nurani mereka dan kadang kala dengan kata-kata
yang tajam dan nada yang kasar bila menghadapi pembesar-pembesar kaumnya yang
keras kepala yang enggan menerima hujjah dan dalil-dalil yang dikemukakan
kepada mereka yang tidak dapat mereka membantahnya atau mematahkannya.
Akan tetapi walaupun Nabi Nuh
telah berusaha sekuat tanaganya berdakwah kepada kaumnya dengan segala
kebijaksanaan, kecakapan dan kesabaran dan dalam setiap kesempatan, siang maupun
malam dengan cara berbisik-bisik atau cara terang dan terbuka ternyata hanya
sedikit sekali dari kaumnya yang dapat menerima dakwahnya dan mengikuti
ajakannya, yang menurut sementara riwayat tidak melebihi bilangan seratus orang.
Mereka pun terdiri dari orang-orang yang miskin berkedudukan sosial lemah.
Sedangkan orang yang kaya-raya, berkedudukan tinggi dan terpandang dalam
masyarakat, yang merupakan pembesar-pembesar dan penguasa-penguasa tetap
membangkang, tidak mempercayai Nabi Nuh mengingkari dakwahnya dan sesekali
tidak merelakan melepas agamanya dan kepercayaan mereka terhadap
berhala-berhala mereka, bahkan mereka berusaha dengan mengadakan persekongkolan
hendak melumpuhkan dan mengagalkan usaha dakwah Nabi nuh.
Berkata mereka kepada Nabi Nuh: "Bukankah engkau hanya seorang daripada
kami dan tidak berbeda daripada kami sebagai manusia biasa. Jikalau betul Allah
akan mengutuskan seorang rasul yang membawa perintah-Nya, niscaya Ia akan
mengutuskan seorang malaikat yang patut kami dengarkan kata-katanya dan kami
ikuti ajakannya dan bukan manusia biasa seperti engkau hanya dapat diikuti
orang-orang rendah kedudukan sosialnya seperti para buruh petani orang-orang
yang tidak berpenghasilan yang bagi kami mereka seperti sampah masyarakat. Pengikut-pengikutmu
itu adalah orang-orang yang tidak mempunyai daya fikiran dan ketajaman otak,
mereka mengikutimu secara buta tuli tanpa memikirkan dan menimbangkan
masak-masak benar atau tidaknya dakwah dan ajakanmu itu. Coba agama yang engkau
bawa dan ajaran-ajaran yang engkau sadurkan kepada kami itu betul-betul benar,
niscaya kamilah dulu mengikutimu dan bukannya orang-orang yang mengemis
pengikut-pengikutmu itu. Kami sebagai pemuka-pemuka masyarakat yang pandai
berfikir, memiliki kecerdasan otak dan pandangan yang luas dan yang dipandang
masyarakat sebagai pemimpin-pemimpinnya, tidaklah mudah kami menerima ajakanmu
dan dakwahmu. Engkau tidak mempunyai kelebihan di atas kami tentang soal-soal
kemasyarakatan dan pergaulan hidup. Kami jauh lebih pandai dan lebih mengetahui
daripadamu tentang hal itu semuanya. Anggapan kami terhadapmu, tidak lain dan
tidak bukan, bahawa engkau adalah pendusta belaka."
Nuh berkata, menjawab ejekan dan olok-olokan
kaumnya: "Adakah engkau mengira bahwa aku dapat memaksa kamu mengikuti
ajaranku atau mengira bahwa aku mempunyai kekuasaan untuk menjadikan kamu
orang-orang yang beriman jika kamu tetap menolak ajakanku dan tetap
membuta-tuli terhadap bukti-bukti kebenaran dakwahku dan tetap mempertahakan
pendirianmu yang tersesat yang diilhamkan oleh kesombongan dan kecongkakan
karena kedudukan dan harta-benda yang kamu miliki. Aku hanya seorang manusia
yang mendapat amanat dan diberi tugas oleh Allah untuk menyampaikan risalah-Nya
kepada kamu. Jika kamu tetap berkeras kepala dan tidak mau kembali ke jalan
yang benar dan menerima agama Allah yang diutuskan-Nya kepadaku maka
terserahlah kepada Allah untuk menentukan hukuman-Nya dan ganjaran-Nya ke atas
diri kamu. Aku hanya pesuruh dan rasul-Nya yang diperintahkan untuk
menyampaikan amanat-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Dialah yang berkuasa memberi
hidayah kepadamu dan mengampuni dosamu atau menurunkan azab dan siksaan-Nya di
atas kamu sekalian jika Ia kehendaki. Dialah pula yang berkuasa menurunkan siksa
dan azab-Nya di dunia atau menangguhkannya sampai hari kemudian. Dialah Tuhan
pencipta alam semesta ini, Maha Kuasa ,Maha Mengetahui, Maha pengasih, dan Maha
Penyayang.".
Kaum Nuh mengemukakan syarat
dengan berkata: "Wahai Nuh! Jika
engkau menghendaki kami mengikutimu dan memberi sokongan dan semangat kepada kamu
dan kepada agama yang engkau bawa, maka jauhkanlah para pengikutmu yang terdiri
dari orang-orang petani, buruh dan hamaba-hamba sahaya itu. Usirlah mereka dari
pengaulanmu karena kami tidak dapat bergaul dengan mereka duduk berdampingan
dengan mereka mengikut cara hidup mereka dan bergabung dengan mereka dalam
suatu agama dan kepercayaan. Dan bagaimana kami dapat menerima satu agama yang
menyamaratakan para bangsawan dengan orang awam, penguasa dan pembesar dengan
buruh-buruhnya dan orang kaya yang berkedudukan dengan orang yang miskin dan
papa."
Nabi Nuh menolak pensyaratan
kaumnya dan berkata: "Risalah dan
agama yang aku bawa adalah untuk semua orang tiada pengecualian, yang pandai maupun
yang bodoh, yang kaya mahupun miskin, majikan ataupun buruh ,diantara peguasa
dan rakyat biasa semuanya mempunyai kedudukan dan tempat yang sama terhadap
agama dan hukum Allah. Andai kata aku memenuhi pensyaratan kamu dan meluluskan
keinginanmu menyingkirkan para pengikutku yang setia itu, maka siapakah yang dapat
ku harapkan akan meneruskan dakwahku kepada orang ramai dan bagaimana aku
sampai hati menjauhkan daripadaku orang-orang yang telah beriman dan menerima
dakwahku dengan penuh keyakinan dan keikhlasan di kala kamu menolaknya serta
mengingkarinya, orang-orang yang telah membantuku dalam tugasku di kala kamu
menghalangi usahaku dan merintangi dakwahku. Dan bagaimanakah aku dapat
mempertanggungjawabkan tindakan pengusiranku kepada mereka terhadap Allah bila
mereka mengadu bahwa aku telah membalas kesetiaan dan ketaatan mereka dengan
sebaliknya semata-mata untuk memenuhi permintaanmu dan tunduk kepada
pensyaratanmu yang tidak wajar dan tidak dapat diterima oleh akal dan fikiran
yang sehat. Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang bodoh dan tidak
berfikiran sihat.”
Pada akhirnya, karena merasa
tidak berdaya lagi mengingkari kebenaran kata-kata Nabi Nuh dan merasa
kehabisan alasan dan hujjah untuk melanjutkan dialog dengan beliau, maka
berkatalah mereka: "Wahai Nabi Nuh!
Kita telah banyak bermujadalah dan berdebat dan cukup berdialog serta mendengar
dakwahmu yang sudah menjemukan itu. Kami tetap tidak akan mengikutimu dan tidak
akan sesekali melepaskan kepercayaan dan adat-istiadat kami sehingga tidak ada
gunanya lagi engkau mengulang-ulangi dakwah dan ajakanmu dan bertegang lidah
dengan kami. datangkanlah apa yang engkau benar-benar orang yang menepati janji
dan kata-katanya. Kami ingin melihat kebenaran kata-katamu dan ancamanmu dalam
kenyataan. Karena kami masih tetap belum mempercayaimu dan tetap meragukan
dakwahmu."
Nabi Nuh Berputus Asa Dari Kaumnya
Nabi Nuh Berputus Asa Dari Kaumnya
Nabi Nuh berada di tengah-tengah
kaumnya selama sembilan ratus lima puluh tahun berdakwah menyampaikan risalah
Tuhan, mengajak mereka meninggalkan penyembahan berhala dan kembali menyembah
dan beribadah kepada Allah Yang Maha Kuasa. Akan tetapi dalam waktu yang cukup
lama itu, Nabi Nuh tidak berhasil menyadarkan dan menarik kaumnya, bertauhid
dan beribadat kepada Allah kecuali sekelompok kecil kaumnya yang tidak mencapai
seramai seratus orang, walaupun ia telah melakukan tugasnya dengan segala
daya-usahanya dan sekuat tenaganya dengan penuh kesabaran dan kesulitan
menghadapi penghinaan, ejekan dan cercaan makian kaumnya, karena ia
mengharapkan akan datang masanya di mana kaumnya akan sadar diri dan datang
mengakui kebenarannya dan kebenaran dakwahnya. Harapan Nabi Nuh akan kesedaran
kaumnya ternyata makin hari makin berkurangan dan bahawa sinar iman dan takwa
tidak akan menebus ke dalam hati mereka yang telah tertutup rapat oleh ajaran
dan bisikan Iblis. Hal mana Nabi Nuh berupa berfirman Allah yang bermaksud: "Sesungguhnya tidak akan seorang daripada
kaumnya mengikutimu dan beriman kecuali mereka yang telah mengikutimu dan
beriman lebih dahulu, maka janganlah engkau bersedih hati karena apa yang
mereka perbuatkan."
Dengan penegasan firman Allah itu, lenyaplah sisa harapan Nabi Nuh dari kaumnya dan habislah kesabarannya. Ia memohon kepada Allah agar menurunkan Azab-Nya di atas kaumnya yang berkepala batu seraya berseru: "Ya Allah! Janganlah Engkau biarkan seorang pun daripada orang-orang kafir itu hidup dan tinggal di atas bumi ini. Mareka akan berusaha menyesatkan hamba-hamba-Mu, jika Engkau biarkan mereka tinggal dan mereka tidak akan melahirkan dan menurunkan selain anak-anak yang berbuat maksiat dan anak-anak yang kafir seperti mereka."
Dengan penegasan firman Allah itu, lenyaplah sisa harapan Nabi Nuh dari kaumnya dan habislah kesabarannya. Ia memohon kepada Allah agar menurunkan Azab-Nya di atas kaumnya yang berkepala batu seraya berseru: "Ya Allah! Janganlah Engkau biarkan seorang pun daripada orang-orang kafir itu hidup dan tinggal di atas bumi ini. Mareka akan berusaha menyesatkan hamba-hamba-Mu, jika Engkau biarkan mereka tinggal dan mereka tidak akan melahirkan dan menurunkan selain anak-anak yang berbuat maksiat dan anak-anak yang kafir seperti mereka."
Doa Nabi Nuh dikalbulkan oleh
Allah dan permohonannya diluluskan dan tidak perlu lagi menghiraukan dan
mempersoalkan kaumnya, karena mereka itu akan menerima hukuman Allah dengan
mati tenggelam.
Nabi Nuh Membuat Kapal
Nabi Nuh Membuat Kapal
Setelah menerima perintah Allah
untuk membuat sebuah kapal, segeralah Nabi Nuh mengumpulkan para pengikutnya
dan mulai mereka mengumpulkan bahan yang diperlukan untuk maksud tersebut,
kemudian dengan mengambil tempat di luar dan agak jauh dari kota dan
keramaiannya mereka dengan rajin dan tekun bekerja siang dan malam
menyelesaikan pembinaan kapal yang diperintahkan itu.
Walaupun Nabi Nuh telah menjauhi
kota dan masyarakatnya, agar dapt bekerja dengan tenang tanpa gangguan bagi
menyelesaikan pembinaan kapalnya namun ia tidak luput dari ejekan dan cemoohan
kaumnya yang kebetulan atau sengaja melalui tempat kerja membina kapal itu.
Mereka mengejek dan mengolok-olok dengan mengatakan: "Wahai Nuh! Sejak bila engkau telah menjadi tukang kayu dan
pembuat kapal?Bukankah engkau seorang nabi dan rasul menurut pengakuanmu,
kenapa sekarang menjadi seorang tukang kayu dan pembuat kapal. Dan kapal yang
engkau buat itu di tempat yang jauh dari air ini adalah maksudmu untuk ditarik
oleh kerbau ataukah mengharapkan angin yang akan menarik kapalmu ke laut?"
Dan lain-lain kata ejekan yang diterima oleh Nabi Nuh dengan sikap dingin
dan tersenyum seraya menjawab: "Baiklah
tunggu saja saatnya nanti, jika kamu sekarang mengejek dan mengolok-olok kami
maka akan tibalah masanya kelak bagi kami untuk mengejek kamu dan akan kamu
ketahui kelak untuk apa kapal yang kami siapkan ini. Tunggulah saatnya azab dan
hukuman Allah menimpa atas diri kamu."
Setelah selesai pekerjaan
pembuatan kapal yang merupakan alat pengangkutan laut pertama di dunia, Nabi
Nuh menerima wahyu dari Allah: "Siap-siaplah
engkau dengan kapalmu, bila tiba perintah-Ku dan terlihat tanda-tanda daripada-Ku
maka segeralah angkut bersamamu di dalam kapalmu dan kerabatmu dan bawalah dua
pasang dari setiap jenis makhluk yang ada di atas bumi dan belayarlah dengan
izin-Ku."
Kemudian tercurahlah dari langit
dan memancur dari bumi air yang deras dan dahsyat yang dalam sekelip mata telah
menjadi banjir besar melanda seluruh kota dan desa menggenangi daratan yang
rendah maupun yang tinggi sampai mencapai puncak bukit-bukit sehingga tiada
tempat berlindung dari air bah yang dahsyat itu kecuali kapal Nabi Nuh yang
telah terisi penuh dengan para orang mukmin dan pasangan makhluk yang
diselamatkan oleh Nabi Nuh atas perintah Allah.
Dengan iringan "Bismillah
majraha wa mursaha" belayarlah kapal Nabi Nuh dengan lajunya menyusuri
lautan air. Di kanan kiri kapal terlihatlah orang-orang kafir bergelut melawan
gelombang air yang menggunung berusaha menyelamat diri. Tatkala Nabi Nuh berada
di atas geladak kapal memperhatikan cuaca dan melihat-lihat orang-orang kafir
dari kaumnya sedang bergelimpangan di atas permukaan air, tiba-tiba terlihatlah
olehnya tubuh putera sulungnya yang bernama "Kan'aan" timbul
tenggelam dipermainkan oleh gelombang yang tidak menaruh belas kasihan kepada
orang-orang yang sedang menerima hukuman Allah itu.
Nabi Nuh berteriak dengan sekuat
suaranya memanggil puteranya: “Wahai
anakku! Datanglah kemari dan gabungkan dirimu bersama keluargamu. Bertaubatlah
engkau dan berimanlah kepada Allah agar engkau selamat dan terhindar dari
bahaya maut yang engkau menjalani hukuman Allah." Kan'aan, putera Nabi
Nuh, itu menolak dengan keras ajakan dan panggilan ayahnya dengan kata-kata
yang menentang: "Biarkanlah aku dan
pergilah, jauhilah aku, aku tidak sudi berlindung di atas geladak kapalmu aku
akan dapat menyelamatkan diriku sendiri dengan berlindung di atas bukit yang
tidak akan dijangkau oleh air bah ini."
Nuh menjawab: "Percayalah bahawa tempat satu-satunya
yang dapat menyelamatkan engkau ialah bergabung dengan kami di atas kapal ini.
Masa tidak akan ada yang dapat melepaskan diri dari hukuman Allah yang telah
ditimpakan ini kecuali orang-orang yang memperolehi rahmat dan
keampunan-Nya."
Setelah Nabi Nuh mengucapkan
kata-katanya tenggelamlah Kan'aan disambar gelombang yang ganas dan lenyaplah
ia dari pandangan mata ayahnya, tergelincirlah ke bawah lautan air.
Nabi Nuh bersedih hati dan
berdukacita atas kematian puteranya dalam keadaan kafir tidak beriman dan belum
mengenal Allah. Beliau berkeluh-kesah dan berseru kepada Allah: "Ya Tuhanku, sesungguhnya puteraku itu
adalah darah dagingku dan adalah bagian dari keluargaku dan sesungguhnya
janji-Mu adalah janji benar dan Engkaulah Maha Hakim yang Maha Berkuasa."
Kepadanya Allah berfirman: "Wahai
Nuh! Sesungguhnya dia puteramu itu tidaklah termasuk keluargamu, karena ia
telah menyimpang dari ajaranmu, melanggar perintahmu menolak dakwahmu dan
mengikuti jejak orang-orang yang kafir daripada kaummu. Coretlah namanya dari
daftar keluargamu. Hanya mereka yang telah menerima dakwahmu mengikuti jalanmu
dan beriman kepada-Ku dapat engkau masukkan dan golongkan ke dalam barisan
keluargamu yang telah Aku janjikan perlindungannya dan terjamin keselamatan
jiwanya. Adapun orang-orang yang mengingkari risalah mu, mendustakan dakwahmu
dan telah mengikuti hawa nafsunya dan tuntutan Iblis, pastilah mereka akan
binasa menjalani hukuman yang telah Aku tentukan walau mereka berada dipuncak
gunung. Maka janganlah engkau sesekali menanyakan tentang sesuatu yang engkau
belum ketahui. Aku ingatkan janganlah engkau sampai tergolong ke dalam golongan
orang-orang yang bodoh."
Nabi Nuh sadar bahwa pada saat ia
memanggil puteranya yang didorong oleh perasaan naluri darah yang menghubungkannya
dengan puteranya padahal sepatutnya cinta dan taat kepada Allah harus
mendahului cinta kepada keluarga dan harta-benda. Ia sangat sesalkan kelalaian
dan kealpaannya itu dan menghadap kepada Allah memohon ampun dan maghfirahnya
dengan berseru: "Ya Tuhanku aku
berlindung kepada-Mu dari godaan syaitan yang terlaknat, ampunilah kelalaian
dan kealpaanku sehingga aku menanyakan sesuatu yang aku tidak mengetahuinya. Ya
Tuhanku bila Engkau tidak memberi ampun dan maghfirah serta menurunkan rahmat
bagiku, niscaya aku menjadi orang yang rugi."
Surutlah lautan air diserap bumi
kemudian bertambatlah kapal Nuh di atas bukit " Judie " dengan
iringan perintah Allah kepada Nabi Nuh: "Turunlah
wahai Nuh ke darat engkau dan para mukmin yang menyertaimu dengan selamat
dilimpahi barakah dan inayah dari sisi-Ku bagimu dan bagi umat yang
menyertaimu."
2) NABI IBRAHIM AS
Nabi Ibrahim adalah putera Aaazar (Tarih) bin
Tahur bin Saruj bin Rau' bin Falij bin Aaabir bin Syalih bin Arfakhsyad bin
Saam bin Nuh A.S. Ia dilahirkan di sebuah tempat bernama "Faddam
A'ram" dalam kerajaan "Babylon" yang pada waktu itu diperintah
oleh seorang raja bernama "Namrud bin Kan'aan."
Kerajaan Babylon pada masa itu termasuk kerajaan
yang makmur. Akan tetapi tingkatan hidup rohani mereka masih berada di tingkat
jahiliyah. Mereka tidak mengenal Tuhan Pencipta mereka. Persembahan mereka
adalah patung-patung yang mereka pahat sendiri dari batu-batu atau terbuat dari
lumpur dan tanah.
Raja mereka Namrud bin Kan'aan menjalankan
tampuk pemerintahnya dengan tangan besi dan kekuasaan mutlak. Semua kehendaknya
harus terlaksana dan segala perintahnya merupakan undang-undang yang tidak dapat
dilanggar atau di tawar. Ia merasakan dirinya patut disembah oleh rakyatnya
sebagai tuhan. Ia berfikir jika rakyatnya mau dan rela menyembah patung-patung
yang terbina dari batu yang tidak dapat memberi manfaat dan mendatangkan
kebahagiaan bagi mereka, mengapa bukan dialah yang disembah sebagai tuhan.
Di tengah-tengah masyarakat yang sedemikian
buruknya lahir dan dibesarkanlah Nabi Ibrahim dari seorang ayah yang bekerja
sebagai pemahat dan pedagang patung. Ia sebagai calon Rasul dan pesuruh Allah
yang akan membawa pelita kebenaran kepada kaumnya, jauh-jauh telah diilhami
akal sehat dan fikiran tajam serta kesedaran bahwa apa yang telah diperbuat
oleh kaumnya termasuk ayahnya sendiri adalah perbuat yang sesat yang menandakan
kebodohan dan kecetekan fikiran dan bahwa persembahan kaumnya kepada
patung-patung itu adalah perbuatan mungkar yang harus dibanteras dan diperangi.
Semasa remajanya Nabi Ibrahim sering disuruh
ayahnya keliling kota menjajakan patung-patung buatannya namun karena iman dan
tauhid yang telah diilhamkan oleh Tuhan kepadanya ia tidak bersemangat untuk
menjajakan barang-barang itu bahkan secara mengejek ia menawarkan patung-patung
ayahnya kepada calon pembeli dengan kata-kata: "Siapakah yang akan membeli patung-patung yang tidak berguna ini?"
Nabi Ibrahim Ingin Melihat Bagaimana Makhluk Yang Sudah Mati Dihidupkan Kembali Oleh Allah
Nabi Ibrahim memohon kepada Allah agar diperlihatkan kepadanya bagaimana Dia menghidupkan kembali makhluk-makhluk yang sudah mati. Berserulah ia kepada Allah: "Ya Tuhanku! Tunjukkanlah kepadaku bagaimana engkau menghidupkan makhluk-makhluk yang sudah mati." Allah menjawab seruannya dengan berfirman: “Tidakkah engkau beriman dan percaya kepada kekuasaan-Ku? "Nabi Ibrahim menjawab: "Betul, wahai Tuhanku, aku telah beriman dan percaya kepada-Mu dan kepada kekuasaan-Mu, namun aku ingin sekali melihat itu dengan mata kepala ku sendiri, agar aku mendapat ketenteraman dan ketenangan dan hatiku dan agar makin menjadi tebal dan kukuh keyakinanku kepada-Mu dan kepada kekuasaan-Mu."
Nabi Ibrahim Ingin Melihat Bagaimana Makhluk Yang Sudah Mati Dihidupkan Kembali Oleh Allah
Nabi Ibrahim memohon kepada Allah agar diperlihatkan kepadanya bagaimana Dia menghidupkan kembali makhluk-makhluk yang sudah mati. Berserulah ia kepada Allah: "Ya Tuhanku! Tunjukkanlah kepadaku bagaimana engkau menghidupkan makhluk-makhluk yang sudah mati." Allah menjawab seruannya dengan berfirman: “Tidakkah engkau beriman dan percaya kepada kekuasaan-Ku? "Nabi Ibrahim menjawab: "Betul, wahai Tuhanku, aku telah beriman dan percaya kepada-Mu dan kepada kekuasaan-Mu, namun aku ingin sekali melihat itu dengan mata kepala ku sendiri, agar aku mendapat ketenteraman dan ketenangan dan hatiku dan agar makin menjadi tebal dan kukuh keyakinanku kepada-Mu dan kepada kekuasaan-Mu."
Allah memperkenankan permohonan Nabi Ibrahim
lalu diperintahkanlah ia menangkap empat ekor burung lalu memotongnya menjadi
berkeping-keping mencampur-baurkan kemudian tubuh burung yang sudah
hancur-luluh dan bercampur-baur itu diletakkan di atas puncak setiap bukit dari
empat bukit yang letaknya berjauhan satu dari yang lain. Diperintahkannyalah
Nabi Ibrahim memanggil burung-burung yang sudah terkoyak-koyak tubuhnya dan
terpisah jauh tiap-tiap bahagian tubuh burung dari bahagian yang lain.
Dengan izin Allah dan kuasa-Nya datanglah
berterbangan enpat ekor burung itu dalam keadaan utuh bernyawa begitu mendengar
seruan dan panggilan Nabi Ibrahim kepadanya lalu hinggaplah empat burung yang
hidup kembali itu di depannya. Kekuasaan dan kehendak Allah tidak ada sesuatu
pun di langit atau di bumi yang dpt menghalangi atau menentangnya dan hanya
kata "Kun" yang difirmankan Oleh-Nya maka terjadilah akan apa yang
dikenhendaki " Fayakun".
Nabi Ibrahim Berdakwah Kepada Ayah Kandungnya
Nabi Ibrahim Berdakwah Kepada Ayah Kandungnya
Aazar, ayah Nabi Ibrahim bertuhan dan menyembah
berhala bahkan ia adalah pedagang dari patung-patung yang dibuat dan dipahatnya
sendiri.
Nabi Ibrahim merasa bahwa kewajiban pertama yang
harus ia lakukan sebelum berdakwah kepada orang lain ialah menyedarkan ayah
kandungnya dulu.
Dengan sikap yang sopan dan adab yang patut ia
bertanya kepada ayahnya dengan lemah lembut gerangan apakah yang mendorongnya
untuk menyembah berhala.
Aazar menjadi merah mukanya dan melotot. Ia
tidak menyembunyikan murka dan marahnya tetapi dinyatakannya dalam kata-kata
yang kasar dan dalam maki hamun seakan-akan tidak ada hunbungan diantara
mereka. Ia berkata kepada Nabi Ibrahim dengan nada gusar: "Hai Ibrahim! Berpalingkah engkau dari kepercayaan dan
persembahanku? Dan kepercayaan apakah yang engkau berikan kepadaku yang
menganjurkan agar aku mengikutinya? Janganlah engkau membangkitkan amarahku dan
coba mendurhakaiku. Jika engkau tidak menghentikan penyelewenganmu dari agama
ayahmu tidak engkau hentikan usahamu mengecam dan memburuk-burukkan
persembahanku, maka keluarlah engkau dari rumahku ini. Aku tidak sudi bercampur
denganmu didalam suatu rumah di bawah suatu atap. Pergilah engkau dari mukaku
sebelum aku menimpamu dengan batu dan mencelakakan engkau."
Nabi Ibrahim menerima kemarahan ayahnya,
pengusirannya dan kata-kata kasarnya dengan sikap tenang, normal selaku anak
terhadap ayah seraya berkaat: " Oh
ayahku! Semoga engkau selamat, aku akan tetap memohonkan ampun bagimu dari
Allah dan akan tinggalkan kamu dengan persembahan selain kepada Allah.
Mudah-mudahan aku tidak menjadi orang yang celaka dan malang dengan doaku
utkmu." Lalu keluarlah Nabi Ibrahim meninggalkan rumah ayahnya dalam
keadaan sedih dan prihati karena tidak berhasil mengangkatkan ayahnya dari
lembah syirik dan kufur.
Nabi Ibrahim Menghancurkan Berhala-berhala
Nabi Ibrahim Menghancurkan Berhala-berhala
Adalah sudah menjadi tradisi dan kebiasaan
penduduk kerajaan Babylon bahwa setiap tahun mereka keluar kota beramai-ramai pada
suatu hari raya yang mereka anggap sebagai keramat. Nabi Ibrahim yang diajak
turut serta berlagak berpura-pura sakit dan diizinkanlah ia tinggal di rumah
apalagi mereka merasa khuatir bahwa penyakit Nabi Ibrahim yang dibuat-buat itu
akan menular dan menjalar.
"
Inilah dia kesempatan yang ku nantikan," kata hati Nabi Ibrahim tatkala melihat kota sudah kosong
dari penduduknya, sunyi senyap tidak terdengar. Dengan membawa sebuah kapak ia
pergi menuju tempat beribadatan kaumnya yang sudah ditinggalkan tanpa penjaga,
tanpa juru kunci dan hanya deretan patung-patung yang terlihat diserambi tempat
peribadatan itu. Sambil menunjuk kepada semahan bunga-bunga dan makanan yang
berada di setiap kaki patung berkata Nabi Ibrahim, mengejek: "Mengapa kamu tidak makan makanan yang
lazat yang disaljikan bagi kamu ini? Jawablah aku dan berkata-katalah
kamu." Kemudian dihancurkanlah
patung-patung tersebut dengan kapak. Patung yang besar ditinggalkannya utuh,
tidak diganggu yang pada lehernya dikalungkanlah kapak Nabi Ibrahim itu.
Terperanjat dan terkejutlah para penduduk,
tatkala pulang dari berpesta ria di luar kota dan melihat keadaan
patung-patung, tuhan-tuhan mereka hancur
berantakan dan menjadi potongan-potongan terserak-serak di atas lantai.
Bertanyalah satu kepada yang lain dengan nada hairan dan takjub: "Gerangan siapakah yang telah berani
melakukan perbuatan yang jahat dan keji ini terhadap tuhan-tuhan persembahan
mereka ini?" Berkata salah seorang diantara mrk: "Ada kemungkinan bahwa orang yang selalu mengolok-olok dan
mengejek persembahan kami yang bernama Ibrahim itulah yang melakukan perbuatan
yang berani ini." Seorang yang lain menambah keterangan dengan
berkata: "Bahkan dialah yang pasti
berbuat, karena ia adalah satu-satunya orang yang tinggal di kota sewaktu kami
semua berada di luar merayakan hari suci dan keramat itu." Selidik
punya selidik, akhirnya terdapat kepastian yang tidak diragukan lagi bahwa
Ibrahimlah yang merusakkan dan memusnahkan patung-patung itu. Dan memang itulah
yang diharapkan oleh Nabi Ibrahim agar pengadilannya dilakukan secara terbuka
di mana semua warga masyarakat dapat turut menyaksikannya.
Hari pengadilan ditentukan dan datang rakyat
dari segala pelosok berduyung-duyung mengujungi padang terbuka yang disediakan
bagi sidang pengadilan itu. Ketika Nabi Ibrahim datang menghadap para hakim
yang akan mengadili ia disambut oleh para hadirin dengan teriakan kutukan dan
cercaan, menandakan sangat gusarnya para penyembah berhala terhadap beliau yang
telah berani menghancurkan persembahan mereka. Ditanyalah Nabi Ibrahim oleh
para hakim: "Apakah engkau yang melakukan
penghancuran dan merusakkan tuhan-tuhan kami?" Dengan tenang dan sikap
dingin, Nabi Ibrahim menjawab:
"Patung besar yang berkalungkan kapak di
lehernya itulah yang melakukannya. Coba tanya saja kepada patung-patung itu
siapakah yang menghancurkannya."
Para hakim penanya terdiam sejenak seraya
melihat yang satu kepada yang lain dan berbisik-bisik, seakan-akan Ibrahim yang
mengandungi ejekan itu. Kemudian berkata si hakim: "Engkaukan tahu bahwa patung-patung itu tidak dapat bercakap dan
berkata mengapa engkau minta kami bertanya kepadanya?" Tibalah waktunya yang memang dinantikan oleh
Nabi Ibrahim, maka sebagai jawapan atas pertanyaan yang terakhir itu beliau
berpidato membentangkan kebathilan persembahan mereka. Berkata Nabi Ibrahim
kepada para hakim itu: "Jika
demikian halnya, mengapa kamu sembah patung-patung itu, yang tidak dapat
berkata, tidak dapat melihat dan tidak dapat mendengar, tidak dapat membawa
manfaat atau menolak mudharat, bahkan tidak dapat menolong dirinya dari
kehancuran dan kebinasaan? Alangkah bodohnya kamu dengan kepercayaan dan
persembahan kamu itu! Tidakkah dapat kamu berfikir dengan akal yang sehat bahwa
persembahan kamu adalah perbuatan yang keliru yang hanya difahami oleh syaitan.
Mengapa kamu tidak menyembah Tuhan yang menciptakan kamu, menciptakan alam
sekeliling kamu dan menguasakan kamu di atas bumi dengan segala isi dan
kekayaan. Alangkah hina dinanya kamu dengan persembahan kamu itu."
Setelah selesai Nabi Ibrahim menguraikan pidatonya
itu, para hakim mencetuskan keputusan bahawa Nabi Ibrahim harus dibakar
hidup-hidup sebagai ganjaran atas perbuatannya menghina dan menghancurkan
tuhan-tuhan mereka, maka berserulah para hakim kepada rakyat yang hadir
menyaksikan pengadilan itu: "Bakarlah
ia dan belalah tuhan-tuhanmu , jika kamu benar-benar setia kepadanya."
Nabi Ibrahim Dibakar Hidup-hidup
Nabi Ibrahim Dibakar Hidup-hidup
Persiapan bagi upacara pembakaran yang akan
disaksikan oleh seluruh rakyat sedang diaturkan. Tanah lapang bagi tempat
pembakaran disediakan dan diadakan pengumpulan kayu bakar dengan banyaknya
dimana tiap penduduk secara gotong-royong harus mengambil bagian membawa kayu
bakar sebanyak yang ia dapat sebagai tanda bakti kepada tuhan-tuhan persembahan
mereka yang telah dihancurkan oleh Nabi Ibrahim.
Kayu lalu dibakar dan terbentuklah gunung berapi
yang dahsyat yang sedang berterbangan di atasnya berjatuhan terbakar oleh
panasnya uap yang ditimbulkan oleh api yang menggunung itu. Kemudian dalam
keadaan terbelenggu, Nabi Ibrahim didatangkan dan dari atas sebuah gedung yang
tinggi dilemparkanlah ia kedalam tumpukan kayu yang menyala-nyala itu dengan
iringan firman Allah: "Hai api,
menjadilah engkau dingin dan keselamatan bagi Ibrahim."
Hanya tali temali dan rantai yang mengikat
tangan dan kakinya yang terbakar hangus, sedang tubuh dan pakaian yang terlekat
pada tubuhnya tetap utuh, tidak sedikit pun tersentuh oleh api, hal mana
merupakan suatu mukjizat yang diberikan oleh Allah.
Para penonton upacara pembakaran heran
tercenggang tatkala melihat Nabi Ibrahim keluar dari bukit api yang sudah padam
dan menjadi abu itu dalam keadaan selamat, utuh dengan pakaiannya yang tetap
berda seperti biasa, tidak ada tanda-tanda sentuhan api sedikit jua pun. Ada
sebagian daripada mereka yang dalam hati kecilnya mulai meragui kebenaran agama
mereka namun tidak berani melahirkan rasa ragu-ragunya itu kepada orang lain,
sedang para pemuka dan para pemimpin mrk merasa kecewa dan malu, karena hukuman
yang mereka jatuhkan ke atas diri Nabi Ibrahim dan kesibukan rakyat mengumpulkan
kayu bakar selama berminggu-minggu telah berakhir dengan kegagalan, sehingga
mrk merasa malu kepada Nabi Ibrahim dan para pengikutnya.
3) NABI MUSA AS
Nabi Musa
A.S. adalah bayi yang dilahirkan pada masa Bani Isra'il yang dikuasai Raja
Fir'aun yang kejam dan zalim. Nabi Musa bin Imron bin Qahat bin Lawi bin Ya'qub
beribukan Yukabad. Setelah dewasa Nabi Musa beristerikan puteri Nabi Syu'aib
yaitu Shafura.
Kelahiran Musa Dan Pengasuhnya
Raja Fir'aun yang memerintah Mesir sekitar
kelahirannya Nabi Musa, adalah seorang raja yang zalim, kejam dan tidak
berperikemanusiaan. Raja Fir'aun mengumumkan dirinya sebagai tuhan yang harus
disembah oleh rakyatnya. Pada suatu hari beliau telah terkejut oleh ramalan
oleh seorang ahli nujum kerajaan yang dengan tiba-tiba datang menghadap raja
dan memberitahu bahwa menurut firasatnya falaknya, seorang bayi lelaki akan
dilahirkan dari kalangan Bani Isra'il yang kelak akan menjadi musuh kerajaan dan
bahkan akan membinasakannya.
Raja Fir'aun segera mengeluarkan perintah agar
semua bayi lelaki yang dilahirkan di dalam lingkungan kerajaan Mesir dibunuh
dan agar diadakan pengusutan yang teliti. Raja Fir'aun menjadi tenang kembali
dan merasa aman tentang kekebalan kerajaannya setelah mendengar para anggota
kerajaannya, bahwa wilayah kerajaannya telah menjadi bersih dan tidak seorang
pun dari bayi laki-laki yang masih hidup.
Yukabad, isteri Imron bin Qahat bin Lawi bin
Ya'qub sedang duduk seorang diri di salah satu sudut rumahnya menanti datangnya
seorang bidan yang akan memberi pertolongan kepadanya melahirkan bayi dari dalam
kandungannya itu. Dan lahirlah bayi dalam keadaan selamat, segar dan sehat alfiat.
Namun setelah diketahui oleh Yukabad bahwa bayinya adalah lelaki maka ia merasa
takut kembali. Ia mengharapkan agar bidan itu merahsiakan kelahiran bayi itu
dari sesiapa pun dan bidan itu sanggup menjaga rahasia itu.
Setelah bayi mencapai tiga bulan, Yukabad tidak
merasa tenang dan selalu berada dalam keadaan cemas dan khuatir terhadap
keselamatan bayinya. Allah memberi ilham kepadanya agar menyembunyikan bayinya
di dalam sebuah peti yang tertutup rapat, kemudian membiarkan peti yang berisi
bayinya itu terapung di atas sungai Nil. Yukabad tidak boleh bersedih dan cemas
ke atas keselamatan bayinya karena Allah menjamin akan mengembalikan bayi itu
kepadanya bahkan akan mengutuskannya sebagai salah seorang rasul.
Dengan bertawakkal kepada Allah dan kepercayaan
penuh terhadap jaminan Illahi, maka dilepaskannya peti bayi oleh Yukabad,
setelah ditutup rapat dan dicat dengan warna hitam, terapung dipermukaan air
sungai Nil. Kakak Musa diperintahkan oleh ibunya untuk mengawasi dan mengikuti
peti rahasia itu agar diketahui di mana ia berlabuh dan ditangan siapa akan
jatuh peti yang mengandungi arti yang sangat besar bagi perjalanan sejarah umat
manusia.
Alangkah cemasnya hati kakak Musa, ketika
melihat dari jauh bahwa peti yang diawasi itu, dijumpai oleh puteri raja yang
kebetulan berada di tepi sungai Nil bersantai bersama beberapa dayangnya dan
dibawanya masuk ke dalam istana dan diserahkan kepada ibunya, isteri Fir'aun.
Yukabad yang segera diberitahu oleh anak perempuannya tentang nasib peti itu,
menjadi kosonglah hatinya karena sedih dan cepat serta hampir saja membuka
rahsia peti itu, andai kata Allah tidak meneguhkan hatinya dan menguatkan hanya
kepada jaminan Allah yang telah dinerikan kepadanya.
Raja Fir'aun ketika diberitahu oleh Aisah,
isterinya, tentang bayi laki-laki yang ditemui di dalam peti yang terapung di
atas permukaan sungai Nil, segera memerintahkan membunuh bayi itu seraya
berkata kepada isterinya: "Aku
khuatir bahwa inilah bayi yang diramalkan, yang akan menjadi musuh dan penyebab
kesedihan kami dan akan membinasakan kerajaan kami yang besar ini."
Akan tetapi isteri Fir'aun yang sudah terlanjur menaruh simpati dan sayang
terhadap bayi itu, berkata kepada suaminya: "Janganlah
bayi yang tidak berdosa ini dibunuh. Aku
sayang kepadanya dan lebih baik kami ambil dia sebagai anak, kalau-kalau kelak
ia akan berguna dan bermanfaat bagi kami. Hatiku sangat tertarik kepadanya dan
ia akan menjadi kesayanganku dan kesayangmu".
Nama Musa yang telah diberikan kepada bayi itu
oleh keluarga Fir'aun, bererti air dan pohon {Mu: air dan Sa: pohon} sesuai
dengan tempat ditemukannya peti bayi itu. Didatangkanlah kemudian ke istana
beberapa inang untuk menjadi ibu susuan Musa. Akan tetapi selalu ditolak oleh
bayi itu. Dalam keadaan isteri Fir'aun lagi bingung memikirkan bayi pungutnya
yang enggan menetek, datanglah kakak Musa menawarkan seorang inang lain yang mungkin
diterima oleh bayi itu.
Atas pertanyaan keluarga Fir'aun, kalau-kalau ia
mengenal keluarga bayi itu, berkatalah kakak Musa: "Aku tidak mengenal siapakah keluarga dan ibu bayi ini. Hanya aku
ingin menunjukkan satu keluarga yang baik dan selalu rajin mengasuh anak,
kalau-kalau bayi itu dapat menerima air susu ibu keluarga itu".
Anjuran kakak Musa diterima oleh isteri Fir'aun
dan seketika itu jugalah dijemput ibu kandung Musa sebagai inang bayaran. Maka
begitu bibir sang bayi menyentuh tetek ibunya, disedutlah air susu ibu
kandungnya itu dengan sangat lahapnya. Kemudian diserahkan Musa kepada Yukabad
ibunya, untuk diasuh selama masa menetek dengan imbalan upah yang besar. Maka
dengan demikian terlaksanalah janji Allah kepada Yukabad bahwa ia akan menerima
kembali puteranya itu.
Setelah selesai masa meneteknya, dikembalikan
Musa oleh ibunya ke istana, di mana ia di asuh, dibesar dan dididik sebagaimana
anak-anak raja yang lain. Ia mengenderai kenderaan Fir'aun dan berpakaian
sesuai dengan cara-cara Fir'aun berpakaian sehingga ia dikenal orang sebagai
Musa bin Fir'aun.
Musa keluar dari Mesir
Sejak ia dikembali ke istana oleh ibunya setelah
disusui, Musa hidup sebagai salah seorang keluarga kerajaan hingga mencapai
usia dewasanya, dimana ia memperolehi asuhan dan pendidikan sesuai dengan
tradisi istana.
Musa mengetahui dan sadar bahwa ia hanya seorang
anak pungut di istana. Karenanya ia berjanji kepada dirinya akan menjadi
pembela kepada kamunya yang tertindas dan menjadi pelindung bagi golongan yang
lemah. Demikianlah maka terdorong oleh rasa setia kawannya kepada orang-orang
yang madhlum dan teraniaya, terjadilah suatu peristiwa yang menyebabkan ia
terpaksa meninggalkan istana dan keluar dari Mesir.
Peristiwa itu terjadi ketika Musa sedang
berjalan-jalan di sebuah lorong di waktu tengah hari di mana keadaan kota sunyi
sepi ketika penduduknya sedang tidur siang, Ia melihat kedua berkelahi seorang
dari golongan Bani Isra'il bernama Samiri dan seorang lagi dari kaum Fir'aun
bernama Fa'tun. Musa yang mendengar teriakan Samiri mengharapkan akan
pertolongannya terhadap musuhnya yang lebih kuat dan lenih besar itu, segera
melontarkan pukulan dan tumbukannya kepada Fatun yang seketika itu jatuh rebahan
menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Musa terkejut melihat Fatun, orang Fir'aun itu
mati karena tumbukannya yang tidak disengajakan dan tidak akan mengharapkan
membunuhnya. Ia merasa berdoa dan beristighfar kepada Allah memohon ampun
diatas perbuatannya yang tidak sengaja, telah melayang nyawa salah seorang drp
hamba-hamba-Nya.
Peristiwa matinya Fatun menjadi perbualan ramai
dan menarik para penguasa kerajaan yang menduga bahwa pasti orang-orang
Isra'illah yang melakukan perbunuhan itu. Mereka menuntut agar pelakunya diberi
hukuman yang berat , bila ia tertangkap.
Anggota dan pasukan keamanan negara di hantarkan
ke seluruh pelusuk kota mencari jejak orang yang telah membunuh Fatun, yang
sebenarnya hanya diketahui oleh Samiri dan Musa. Akan tetapi, walaupun tidak
orang ketiga yang menyaksikan peristiwa itu, Musa merasa cemas dan takut dan
berada dalam keadaan bersedia menghadapi akibat perbuatannya itu bila sampai
tercium oleh pihak penguasa.
Alangkah malangnya nasib Musa yang sudah cukup
berhati-hati menghindari kemungkinan terbongkarnya rahsia pembunuhan yang ia
lakukan tatkala ia terjebak lagi tanpa disengajakan dalam suatu perbuatan yang
menyebabkan namanya disebut-sebut sebagai pembunuh yang dicari. Musa bertemu
lagi dengan Samiri yang telah ditolongnya melawan Fatun, juga dalam keadaan
berkelahi untuk kali keduanya dengan salah seorang dari kaum Fir'aun. Melihat
Musa berteriaklah Samiri meminta pertolongannya. Musa menghampiri mereka yang
sedang berkelahi seraya berkata menegur Samiri: "Sesungguhnya engkau adalah seorang yang telah sesat."
Samiri menyangkal bahwa Musa akan membunuhnya
ketika ia mendekatinya, lalu berteriaklah Samiri berkata: "Apakah engkau hendak membunuhku sebagaimana engkau telah membunuh
seorang kelmarin? Rupanya engkau hendak menjadi seorang yang sewenang-wenang di
negeri ini dan bukan orang yang mengadilkan kedamaian".
Kata-kata Samiri itu segera tertangkap
orang-orang Fir'aun, yang dengan cepat memberitahukannya kepada para penguasa
yang memang sedang mencari jejaknya. Maka berundinglah para pembesar dan
penguasa Mesir, yang akhirnya memutuskan untuk menangkap Musa dan membunuhnya
sebagai balasan terhadap matinya seorang dari kalangan kaum Fir'aun.
Selagi orang-orang Fir'aun mengatur rancangan
penangkapan Musa, seorang lelaki salah satu sahabatnya datang dari hujung kota
memberitahukan kepadanya dan menasihatkan agar segera meninggalkan Mesir,
karena para penguasa Mesir telah memutuskan untuk membunuhnya apabila ia
ditangkap. Lalu keluarlah Musa terburu-buru meninggalkan Mesir, sebelum anggota
polisi sempat menutup serta menyekat pintu-pintu gerbangnya.
Musa bertemu Jodoh di kota Madyan
Dengan berdoa kepada Allah: "Ya Tuhanku selamatkanlah aku dari segala tipu daya orang-orang
yang zalim." Keluarlah Nabi Musa dari kota Mesir seorang diri.
Setelah menjalani perjalanan selama delapan hari
delapan malam dengan berkaki ayam {tidak berkasut} sampai terkupas kedua kulit
tapak kakinya, tibalah Musa di kota Madyan yaitu kota Nabi Syu'aib yang
terletak di timur jazirah Sinai dan teluk Aqabah di selatan Palestin.
Nabi Musa beristirahat di bawah sebuah pokok
yang rindang, berdiam diri karena nasibnya sebagai salah seorang bekas anggota
istana kerajaan yang menjadi seorang pelarian dan buruan. Ia tidak tahu ke mana
ia harus pergi dan kepada siapa ia harus bertamu, di tempat di mana ia tidak
mengenal dan dikenal orang, tiada sahabat dan saudara. Dalam keadaan demikian
terlihatlah olehnya sekumpulan penggembala berdesak-desak mengelilingi sebuah
sumber air bagi memberi minum ternakannya masing-masing, sedang tidak jauh dari
tempat sumber air itu berdiri dua orang gadis yang menantikan giliran untuk
memberi minuman kepada ternakannya, jika para penggembala lelaki itu sudah
selesai dengan tugasnya.
Musa merasa kasihan melihat kepada dua orang
gadis itu yang sedang menanti lalu dihampirinya dan ditanya : "Gerangan apakah yang kamu tunggu di
sini?” Kedua gadis itu menjawab: "Kami
hendak mengambil air dan memberi minum ternakan kami namun kami tidak dapat
berdesak dengan lelaki yang masih berada di situ. Kami menunggu sehingga mereka
selesai memberi minum ternakan mereka. Kami harus lakukan sendiri pekerjaan ini
karena ayah kami sudah lanjut usianya dan tidak dapat berdiri, jangan lagi
datang ke mari”. Lalu tanpa mengucapkan sepatah kata pun diambilkannyalah
timba kedua gadis itu oleh Musa dan sejurus kemudian dikembalikannya kepada mereka
setelah terisi air penuh sedang sekeliling sumber air itu masih padat di
keliling para pengembala.
Setibanya kedua gadis itu di rumah berceritalah
keduanya kepada ayah mereka tentang pengalamannya dengan Nabi Musa. Ayah kedua
gadis yang bernama Syu'aib itu tertarik dan ingin berkenalan dengan orang yang
baik hati itu Ia menyuruh salah seorang puterinya itu pergi memanggilkan Musa
dan mengundangnya datang ke rumah.
Dengan malu-malu pergilah puteri Syu'aib menemui
Musa yang masih berada di bawah pohon yang masih melamun. Dalam keadaan letih
dan lapar Musa berdoa: "Ya Tuhanku
aku sangat memerlukan belas kasihmu dan memerlukan kebaikan sedikit barang
makanan yang Engkau turunkan kepadaku."
Berkatalah gadis itu kepada Musa memotong
lamunannya: "Ayahku mengharapkan
kedatanganmu ke rumah untuk berkenalan dengan engkau serta memberi engkau
sekadar upah atas jasamu menolong kami mendapatkan air bagi kami dan ternakan
kami."
Musa tanpa berfikir panjang menerima undangan
gadis itu dengan senang hati. Ia lalu mengikuti gadis itu. Dalam
berbincang-bincang dan bercakap-cakap dengan Syu'aib ayah kedua gadis yang
sudah lanjut usianya itu Musa mengisahkan kepadanya peristiwa yang terjadi pada
dirinya di Mesir.
Berkata Syu'aib setelah mendengar kisah tamunya:
"Engkau telah lepas dari pengejaran
dari orang-orang yang zalim dan ganas itu adalah berkat rahmat Tuhan dan
pertolongan-Nya. Dan engkau sudah berada di sebuah tempat yang aman di rumah
kami ini, di man engkau akan tinggallah dengan tenang dan tenteram selama
engkau suka."
Hal mana telah menimbulkan ide di dalam hati
salah seorang puteri Syu'aib untuk mempekerjakan Musa sebagai pembantu mereka.
Berkatalah gadis itu kepada ayahnya: "Wahai
ayah! Ajaklah Musa sebagai pembantu kami menguruskan urusan rumah tangga dan
penternakan kami. Ia adalah seorang yang kuat badannya, luhur budi perkertinya,
baik hatinya dan boleh dipercayai."
Diajaklah Musa berunding oleh Syu'aib dan
berkatalah kepadanya: "Wahai Musa!
Tertarik oleh sikapmu yang manis dan cara pergaulanmu yang sopan serta akhlak
dan budi perkertimu yang luhur, selama engkau berada di rumah ini kami dan
mengingat akan usiaku yang makin hari makin lanjut, maka aku ingin sekali
mengambilmu sebagai menantu, mengahwinkan engkau dengan salah seorang dari
kedua gadisku ini. Jika engkau dengan senang hati menerima tawaranku ini, maka
sebagai maskahwinnya, aku minta engkau bekerja sebagai pembantu kami selama delapan
tahun menguruskan penternakan kami dan soal-soal rumahtangga yang memerlukan
tenagamu. Dan aku sangat berterima kasih kepada mu bila engkau secara suka rela
mau menambah dua tahun di atas delapan tahun yang menjadi syarat mutlak
itu."
Ia segera tanpa berfikir panjang berkata kepada
Syu'aib: "Aku merasa sangat bahagia,
bahwa pakcik berkenan menerimaku sebagai menantu, semoga aku tidak menghampakan
harapan pakcik yang telah berjasa kepada diriku sebagai tamu yang diterima
dengan penuh hormat dan ramah tamah, kemudian dijadikannya sebagai menantu,
suami kepada anak puterinya. Syarat kerja yang pakcik kemukakan sebagai maskawin,
aku setujui dengan penuh tanggung jawab dan dengan senang hati."
Setelah masa delapan tahun bekerja sebagai
pembantu Syu'aib ditambah dengan suka rela dilampaui oleh Musa, dikawinkanlah
ia dengan puterinya yang bernama Shafura. Dan sebagai hadiah perkawinan
diberinyalah pasangan pengganti baru itu oleh Syu'aib beberapa ekor kambing
untuk dijadikan modal pertama bagi hidupnya yang baru sebagai suami-isteri.
Pemberian beberpa ekor kambing itu juga merupakan tanda terima kasih Syu'aib
kepada Musa yang selama ini di bawah pengurusannya, peternakan Syu'aib menjadi
berkembang biak dengan cepatnya dan memberi hasil serta keuntungan yang
berlipat ganda.
Musa A.S. pulang ke Mesir dan menerima Wahyu
Bergegalah Musa berserta isterinya mengemaskan barang
dan menyediakan kendaraan lalu meminta diri dari orang tuanya dan bertolaklah
menuju ke selatan menghindari jalan umum supaya tidak diketahui oleh
orang-orang Fir'aun yang masih mencarinya.
Setibanya di "Thur Sina" tersesatlah
Musa kehilangan pedoman dan bingung manakah yang harus ia tempuh. Dalam keadaan
demikian terlihatlah oleh dia sinar api yang nyala-nyala di atas lereng sebuah
bukit. Ia berhenti lalu lari ke jurusan api itu seraya berkata kepada
isterinya: "Tinggallah kamu disini
menantiku. Aku pergi melihat api yang menyala di atas bukit itu dan segera aku
kembali. Mudah-mudahan aku dapat membawa satu berita kepadamu dari tempat api
itu atau setidak-tidaknya membawa sesuluh api bagi menghangatkan badanmu yang
sedang menggigil kesejukan."
Tatkala Musa sampai ke tempat api itu terdengar
oleh dia suara seruan kepadanya datang dari sebatang pohon kayu di pinggir
lembah yang sebelah kanannya pada tempat yang diberkahi Allah. Suara seruan
yang didengar oleh Musa itu ialah: "Wahai
Musa! Aku ini adalah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu. Sesungguhnya
kamu berada di lembah yang suci Thuwa. Dan aku telah memilih kamu, maka
dengarkanlah apa yang akan diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya aku ini adalah
Allah tiada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah solat untuk
mengingat akan Aku."
Itulah wahyu yang pertama yang diterima langsung
oleh Nabi Musa sebagai tanda kenabiannya, di mana ia telah dinyatakan oleh
Allah sebagai rasul dan nabi-Nya yang dipilih Nabi Musa dalam kesempatan
bercakap langsung dengan Allah di atas bukit Thur Sina itu telah diberi bekal
oleh Allah yang Maha Kuasa dua jenis mukjizat sebagai persiapan untuk menghadap
kaum Fir'aun yang sombong dan zalim itu.
Bertanyalah Allah kepada Musa: "Apakah itu yang engkau pegang dengan
tangan kananmu hai Musa!" Suatu pertanyaan yang mengadungi erti yang
lebih dalam dari apa yang sepintas lalu dapat ditangkap oleh Nabi Musa dengan
jawapannya yang sederhan: "Ini
adalah tongkatku, aku bertelekan padanya dan aku pukul daun dengannya untuk makanan
kambingku. Selain itu aku dapat pula menggunakan tongkatku untuk
keperluan-keperluan lain yang penting bagiku."
Maksud dan arti dari pertanyaan Allah yang
nampak sederhana itu baru dimegertikan dan diselami oleh Musa setelah Allah
memerintahkan kepadanya agar meletakkan tongkat itu di atas tanah, lalu
menjelmalah menjadi seekor ular besar yang merayap dengan cepat sehingga
menjadikan Musa lari ketakutan. Allah berseru kepadanya: "Peganglah ular itu dan jangan takut. Kami akan mengembalikannya
kepada keadaan asal."
Maka begitu ular yang sedang merayap itu
ditangkap dan dipegang oleh Musa, ia segera kembali menjadi tongkat yang ia
terima dari Syu'aib, mertuanya ketika ia bertolak dari Madyan.
Sebagai mukjizat yang kedua, Allah memerintahkan
kepada Musa agar mengepitkan tangannya ke ketiaknya yang nyata setelah
dilakukannya perintah itu, tangannya menjadi putih cemerlang tanpa cacat atau
penyakit.
Musa diperintahkan berdakwah kepada Fir'aun
Musa diperintahkan berdakwah kepada Fir'aun
Maka dalam kesempatan bercakap langsung di bukit
Thur Sina itu diperintahkan Musa oleh Allah untuk pergi ke Fir'aun sebagai
Rasul-Nya, mengajak beriman kepada Allah, menyadarkan dirinya bahwa ia adalah
makhluk Allah sebagaimana lain rakyatnya, yang tidak sepatutnya menuntut orang
menyembahnya dan bahawa Tuhan yang wajib disembah oleh semua manusia adalah
Tuhan Yang Maha Esa yang telah menciptakan alam semesta ini.
Jika pada waktu bertolak dari Madyan dan selama
perjalannya ke Thur Sina. Nabi Musa dibayangi dengan rasa takut akan pembalasan
Fir'aun, maka dengan perintah Allah yang berfirman maksudnya : "Pergilah engkau ke Fir'aun,
sesungguhnya ia telah melampaui batas, segala bayangan itu dilempar jauh-jauh
dari fikirannya dan bertekad akan melaksanakan perintah Allah menghadapi
Fir'aun apa pun akan terjadi pada dirinya. Hanya untuk menentramkan hatinya
berucaplah Musa kepada Allah: "Aku telah membunuh seorang daripada mereka
, maka aku khuatir mereka akan membalas membunuhku, berikanlah seorang pembantu
dari keluargaku sendiri, yaitu saudaraku Harun untuk menyertaiku dalam
melakukan tugasku meneguhkan hatiku dan menguatkan tekadku menghadapi
orang-orang kafir itu apalagi Harun saudaraku itu lebih petah {lancar} lidahnya
dan lebih cekap daripada diriku untuk berdebat dan bermujadalah."
Allah berkenan mengabulkan permohonan Musa, maka
digerakkanlah hati Harun yang ketika itu masih berada di Mesir untuk pergi
menemui Musa mendampinginya dan bersama-sama pergilah mereka ke istana Fir'aun
dengan diiringi firman Allah: "Janganlah
kamu berdua takut dan khuatir akan disiksa oleh Fir'aun. Aku menyertai kamu
berdua dan Aku mendengar serta melihat dan mengetaui apa yang akan terjadi
antara kamu dan Fir'aun. Berdakwahlah kamu kepadanya dengan kata-kata yang
lemah lembut sedarkanlah ia dengan kesesatannya dan ajaklah ia beriman dan bertauhid,
meninggalkan kezalimannya dan kecongkakannya kalau-kalau dengan sikap yang
lemah lembut daripada kamu berdua ia akan ingat pada kesesatan dirinya dan
takut akan akibat kesombongan dan kebonmgkakannya."
Musa memperlihatkan dua mukjizat kepada Fir'aun
Musa memperlihatkan dua mukjizat kepada Fir'aun
Menjawab tentangan Fir'aun yang menuntut bukti
atas kebenarannya Musa dengan serta-merta meletakkan tongkat mukjizatnya di
atas yang segera menjelma menjadi seekor ular besar yang melata menghala ke
Fir'aun. Karena ketakutan melompat lari dari singgahsananya melarikan diri
seraya berseru kepada Musa: "Hai
Musa demi asuhanku kepadamu selama delapan belas tahun panggillah kembali
ularmu itu." Kemudian dipeganglah ular itu oleh Musa dan kembali
menjadi tongkat biasa.
Berkata Fir'aun kepada Musa setelah hilang dari
rasa heran dan takutnya: "Adakah
bukti yang dapat engkau tunjukkan kepadaku?"
"Ya,
lihatlah." Musa menjawab
serta memasukkan tangannya ke dalam saku bajunya. Kemudian tatkala tangannya
dikeluarkan dari sakunya, bersinarlah tangan Musa itu menyilaukan mata Fir'aun
itu dan orang-orang yang sedang berada disekelilingnya.
Fir'aun sebagai raja yang menyatakan dirinya sebagai tuhan tentu tidak akan mudah begitu saja menyerah kepada Musa bekas anak pungutnya walaupun kepadanya telah diperlihatkan dun mukjizat. Ia bahkan berkata kepada kaumnya yang ia khuatir akan terpengaruh oleh kedua mukjizat Musa itu bahwa itu semuanya adalah perbuatan sihir dan bahwa Musa dan Harun adalah ahli sihir yang mahir yang datang dengan maksud menguasai Mesir dan para penduduknya akan kekuatan dengan sihirnya itu.
Fir'aun sebagai raja yang menyatakan dirinya sebagai tuhan tentu tidak akan mudah begitu saja menyerah kepada Musa bekas anak pungutnya walaupun kepadanya telah diperlihatkan dun mukjizat. Ia bahkan berkata kepada kaumnya yang ia khuatir akan terpengaruh oleh kedua mukjizat Musa itu bahwa itu semuanya adalah perbuatan sihir dan bahwa Musa dan Harun adalah ahli sihir yang mahir yang datang dengan maksud menguasai Mesir dan para penduduknya akan kekuatan dengan sihirnya itu.
Fir'aun dianjurkan oleh penasihatnya yang
dikepalai oleh Haman agar mematahkan sihir Musa dan Harun itu dengan
mengumpulkan ahli-ahli sihir yang terkenal dari seluruh daerah kerajaan untuk
bertanding melawan Musa dan Harun. Anjuran mana disetujui oleh Fir'aun yang
merasa itu adalah fikiran yang tepat dan jalan yang terbaik untuk melumpuhkan
kedua mukjizat Allah yang oleh mereka dianggapnya sebagai sihir. Anjuran itu
lalu ditawarkan kepada Musa yang seketika tanpa ragu-ragu sedikit pun menerima
tentangan Fir'aun untuk beradu dan bertanding melawan ahli-ahli sihir. Musa
berkeyakinan penuh bahwa dengan perlindung Allah ia akan keluar sebagai
pemenang dalam pertarungan itu, pertandingan antara perbuatan sihir yang
diilham oleh syaitan melawan mukjizat yang dikurniakan oleh Allah.
Pada suatu hari raya kerajaan telah bersetuju
untuk mengadakan hari pertandingan sihir maka berduyun-duyunlah penduduk kota
menuju ke tempat perlombaan yang buat pertama kalinya diadakan di Mesir. Juga
sudah berada di tempat ahli-ahli sihir yang terpandai yang telah dikumpulkan
dari seluruh wilayah kerajaan masing-masing membawa tongkat , tali dan
lain-lain alat sihirnya. Mereka telah memperoleh janji dari Fir'aun akan diberi
hadiah dan wang dalam jumlah yang besar bila berhasil mengalahkan Musa dengan
mematahkan daya sihirnya.
Masing-masing pembesar negeri sudah mengambil
tempatnya mengelilingi raja Fir'aun yang telah duduk di atas kursi
singgahsananya maka dinyatakanlah pertandingan dimulai. Kemudian atas
persetujuan Musa dipersilakan para lawannya beraksi lebih dahulu mempertujukan
kepandai sihirnya.
Segeralah ahli-ahli sihir Fir'aun menujukan
aksinya melemparkan tongkat dan tali-temali ke tengah lapangan. Musa merasa
takut ketika terbayang kepadanya bahwa tongkat-tongkat dan tali-tali itu
seakan-akan ular-ular yang merayap cepat. Namun Allah tidak mebiarkan hamba
utusan-Nya berkecil hati menghadapi tipu-daya orang-orang kafir itu. Allah
berfirman kepada Musa disaat ia merasa cemas itu: "Janganlah engkau merasa takut dan cemas hai Musa! Engkau adalah
yang lebih unggul dan akan menang dalam pertandingan ini. Lemparkanlah yang ada
ditanganmu segera."
Para ahli sihir yang pandai itu tercengang
ketika melihat ular besar yang menjelma dari tongkat Nabi Musa dan menelan
ular-ular dan segala apa yang terbayang sebagai hasil tipu sihir mereka. Mereka
segera menyerah kalah bertunduk dan bersujud {kepada Allah} dihadapan Musa
seraya berkata: "Itu bukanlah
perbuatan sihir yang kami kenal yang diilhamkan oleh syaitan tetapi sesuatu
yang digerakkan oleh kekuatan ghaib yang mengatakan kebenaran kata-kata Musa
dan Harun maka tidak ada alasan bagi kami untuk tidak mempercayai risalah
mereka dan beriman kepada Tuhan mereka sesudah apa yang kami lihat dan saksikan
dengan mata kepala kami sendiri."
Fir'aun raja membelalakkan matanya tanda marah
dan jengkel melihat ahli sihirnya begitu cepat menyerah kepada Musa bahkan menyatakan
beriman kepada Tuhannya dan kepada kenabiannya serta menjadi pengikutnya.
Tindakan mereka itu dianggapnya sebagai pelanggaran terhadap kekuasaannya,
penentangan terhadap ketuhanannya dan merupakan suatu tamparan bagi kewibawaan
serta prestasinya. Ia berkata kepada mereka: "Adakah kamu berani beriman kepada Musa dan menyerah kepada
keputusannya sebelum aku izinkan kepada kamu? Bukankah ini suatu persekongkolan
daripada kamu terhadapku? Musa dapat mengalah kamu sebab ia mungkin guru dan
pembesar yang telah mengajarkan seni sihir kepadamu dan kamu telah mengatur
bersama-samanya tindakan yang kamu sandiwarakan di depanku hari ini. Aku tidak
akan tinggal diam menghadapi tindakan khianatmu ini. Akanku potong
tangan-tangan dan kaki-kakimu serta akanku salibkan kamu semua pada pangkal
pohon kurma sebagai hukuman dan balasan bagi tindakan khianatmu ini."
Ancaman Fir'aun itu disambut mereka dengan sikap
dingin dan acuh tak acuh. Karena Allah telah membuka mata hati mereka dengan
cahaya iman sehingga tidak akan terpengaruh dengan kata-kata kebathilan yang
menyesatkan atau ancaman Fir'aun yang menakutkan. Maka sekali mereka diyakinkan
dengan mukjizat Nabi Musa yang membuktikan kebenaran kenabiannya tidaklah
keyakinan itu akan dapat digoyahkan oleh ancaman apa pun. Berkata mereka kepada
Fir'aun menanggapi ancamannya: "Kami
telah mendapat bukti-bukti yang nyata dan kami tidak akan mengabaikan kenyataan
itu sekadar memenuhi kehendak dan keinginanmu. Kami akan berjalan terus megikut
jejak dan tuntutan Musa dan Harun sebagai pesuruh oleh yang benar. Maka
terserah kepadamu untuk memutuskan apa yang engkau hendak putuskan terhadap
diri kami. Keputusan kamu hanya berlaku di dunia ini sedang kami mengharapkan
pahala Allah di akhirat yang kekal dan abadi."
Fir'aun tetap keras kepala dan semakin bingung
Fir'aun tetap keras kepala dan semakin bingung
Fir’aun khuatir jika gerakan Musa tidak segera
dipatahkan akan mengancam keselamatan kerajaannya serta kekekalan mahkotanya.
Para penasihat dan pembantu terdekatnya tidak berusaha menghilangkan rasa
kecemasan dan kekhuatirannya, tetapi mereka makin membakar dadanya dan makin menakutinya.
Mereka berkata kepadanya: "Apakah
engkau akan terus membiarkan Musa dan kaumnya bergerak secara bebas dan
meracuni rakyat dengan macam-macam kepercayaan dan ajaran-ajaran yang
menyimpang dari apa yang telah kita warisi dari nenek-moyang kita? Tidakkah
engkau sadar bahwa rakyat kita makin lama makin terpengaruh oleh
hasutan-hasutan Musa. Sehingga lama-kelamaan niscaya kita dan tuhan-tuhan kita
akan ditinggalkan oleh rakyat kita dan pada akhirnya akan hancur binasalah
negara dan kerajaanmu yang megah ini."
Fir'aun menjawab: "Apa yang kamu huraikan itu sudah menjadi perhatiku sejak
dikalahkannya ahli-ahli sihir kita oleh Musa. Dan memang kalau kita membiarkan
Musa terus melebarkan sayapnya dan meluaskan pengaruhnya di kalangan
pengikut-pengikutnya yang makin lama makin bertambah jumlahnya, pasti pada
akhirnya akan merusakkan adab hidup masyarakat negara kita serta membawa
kehancuran dan kebinasaan bagi kerajaan kita yang megah ini. karenanya aku telah
merancang akan bertindak terhadap Bani Isra'il dengan membunuh setiap orang
lelaki dan hanya wanita sahaja akanku biarkan hidup."
Rancangan jahat Fir'aun diterapkan oleh pegawai
dan kaki tangan kerajaannya. Aneka ragam gangguan dan bermacam tindakan kejam
ditimpakan atas Bani Isra'il yang memang menurut anggapan masyarakat, mereka
itu adalah rakyat kelas kambing dalam kerajaan Fir'aun yang zalim itu. Datanglah
Bani Isra'il kepada Nabi Musa, mengharapkan pertolongan dan perlindungannya.
Nabi Musa hanya menenteramkan hati mereka, bahwa akan tiba saatnya kelak, di
mana mereka akan dibebaskan oleh Allah dari segala penderitaan.
Fir'aun memanggil para penasihat dan pembesar
kerajaannya untuk bermesyuarat dan merancang pembunuhan Musa. Di antara mereka
yang di undang itu terdapat seorang mukmin dari Keluarga Fir'aun yang merahasiakan
imannya.
Di tengah perdebatan dan perundingan yang
berlangsung dalam pertemuan untuk membincangkan cara pembunuhan Nabi Musa itu,
bangkitlah berdiri mukmin itu mengucapkan pembelaannya terhadap Nabi Musa dan
nasihat serta tuntunan bagi mereka yang hadir. Ia berkata: "Apakah kamu akan membunuh seseorang lelaki yang tidak berdosa,
hanya berkata bahwa Allah adalah Tuhannya? Padahal ia menyatakan iman dan
kepercayaannya itu kepada kamu bukan tanpa dalil dan hujjah. Ia telah
mempertunjukkan kepada kamu bukti-bukti yang nyata untuk menyakinkan kamu akan
kebenaran ajarannya. Jika andainya dia seorang pendusta, maka dia sendirilah
yang akan menanggung dosa akibat dustanya. Namun jika ia adalah benar dalam
kata-katanya, maka niscaya akan menimpa kepada kamu bencana azab yang telah
dijanjikan olehnya. Dan dalam keadaan yang demikian siapakah yang akan menolong
kamu dari azab Allah yang telah dijanjikan itu?"
Fir'aun memotong pidato orang mukmin itu dengan
berkata: "Rancanganku harus
terlaksana dan Musa harus dibunuh. Aku tidak mengemukan kepadamu melainkan apa
yang aku pandang baik dan aku tidak menunjukkan kepadamu melainkan jalan yang
benar, jalan yang akan menyelamatkan kerajaan dan negara."
Berucap orang mukmin dari keluarga Fir'aun itu
melanjutkan: "Sesungguhnya aku
khuatir, jika kamu tetap berkeras kepala
dan enggan menempuh jalan yang benar yang dibawa oleh para nabi-nabi, bahwa
kamu akan ditimpa azab dan siksa yang membinasakan , sebagaimana telah dialami
oleh kaum Nuh, kaum Aad, kaum Tsamud dan umat-umat yang datang sesudah mereka.
Apa yang telah dialami oleh kaum-kaum itu adalah akibat kecongkakan dan
kesombongan mereka karena Allah tidak menghendaki berbuat kezaliman terhadap
hamba-hamba-Nya. Wahai kaumku! Sesungguhnya aku khuatir kamu akan menerima siksa
dan azab Tuhan di hari qiamat kelak, di mana kamu akan berpaling kebelakang,
tidak seorang pun akan dapat menyelamatkan kamu itu dari seksa Allah. Hai kaum
ikutilah nasihatku, aku hanya ingin kebaikan bagimu dan mengajak kamu ke jalan
yang benar. Ketahuilah bahwa kehidupan di dunia ini hanya merupakan kesenangan
sementara, sedangkan kesenangan dan kebahagiaan yang kekal adalah di akhirat
kelak."
Fir'aun dan pengikut-pengikutnya bahkan
menganjurkan kepada orang mukmin itu, agar meninggalkan sikapnya yang membela
Musa dan menyetujui rancangan jahat mereka. Berkata orang mukmin itu menanggapi
anjuran Fir'aun: "Wahai kaumku,
sangat aneh sekali sikap dan pendirianmu, aku berseru kepada kamu untuk
kebaikan dan keselamatanmu, kamu berseru kepadaku untuk berkufur kepada Allah
dan mempersekutukan-Nya dengan apa yang aku tidak ketahui, sedang aku berseru
kepadamu untuk beriman kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa, Maha Perkasa, lagi
Maha Pengampun. Sudah pasti dan tidak dapat diragukan lagi, bahwa apa yang kamu
serukan kepadaku itu tidak akan menolongku dari murka dan siksa Allah di dunia
maupun di akhirat. Dan sesungguhnya kamu sekalian akan kembali kepada Allah
yang akan memberi pahala syurga bagi orang-orang yang soleh, bertakwa dan
beriman, sedang orang-orang kafir yang telah melampaui batas akan diberi
ganjaran dengan api neraka. Hai kaumku perhatikanlah nasihat dan peringatanku
ini. Kamu akan menyedari kebenaran kata-kataku ini kelak bila sudah tidak
berguna lagi orang menyesal atau merasa susah karena perbuatan yang telah
dilakukan. Aku hanya menyerahkan urusan ku dan nasibku kepada Allah. Dialah
Yang Maha Mengetahui dan Maha Melihat perbuatan dan kelakuan hamba-hamba-Nya.”
Fir'aun menghina dan mengejek Musa
Selain tindakan kekerasan yang ditimpakan ke
atas Bani Isra'il kaumnya Nabi Musa, Fir'aun melontarkan penghinaan dan
kata-kata ejekan terhadap Nabi Musa dalam usahanya memerangi dan membendung
pengaruh Nabi Musa yang semakin beertambah semenjak ia keluar sebagai pemenang
dalam pertandingan melawan tukang-tukang sihir kaum Fir'aun.
Berkata Fir'aun kepada pembesar-pembesar kerajaannya: "Biarkanlah aku membunuh Musa dan biarlah ia memohon dari Tuhannya untuk melindunginya. Aku ingin tahu sampai sejauh mana ia dapat melepaskan diri dari kekuasaanku dan biarlah ia membuktikan kebenaran kata-kata, bahwa Tuhannya akan melindunginya dari segala tipu daya musuh-musuhnya."
Berkata Fir'aun kepada pembesar-pembesar kerajaannya: "Biarkanlah aku membunuh Musa dan biarlah ia memohon dari Tuhannya untuk melindunginya. Aku ingin tahu sampai sejauh mana ia dapat melepaskan diri dari kekuasaanku dan biarlah ia membuktikan kebenaran kata-kata, bahwa Tuhannya akan melindunginya dari segala tipu daya musuh-musuhnya."
Dalam lain kesempatan Fir'aun berkata kepada
rakyatnya: "Hai rakyatku! Tidakkah
kamu melihat bahwa aku memiliki kerajaan Mesir yang megah dan besar ini di mana
sungai-sungai mengalir dibawah telapak kakiku, sungai-sungai yang memberi
kemakmuran hidup dan kebahagiaan hidup bagi rakyatku? Dan tidakkah kamu melihat
kekuasaanku yang luas dan ketaatan rakyatku yang bulat kepadaku? Bukankah aku
lebih baik dan lebih agung dari Musa yang hina-dina itu yang tidak cekap
menguraikan isi hatinya dan menerangkan maksud tujuannya. Megapa Tuhannya tidak
memakaikan gelang emas, sebagaimana lazimnya orang-orang yang diangkat menjadi
raja, pemimpin atau pembesar? Atau mengapa ia tidak diiringi oleh
malaikat-malaikat sebagai tanda kebesarannya dan bukti kebenarannya bahwa ia
adalah pesuruh Tuhannya?"
Berdoalah Nabi Musa, memohon kepada Allah: "Ya Tuhan kami, engkau telah memberi
kepada Fir'aun dan kaum kerabatnya kemewahan hidup, harta kekayaan yang
meluap-luap dan kenikmatan duniawi, yang kesemua itu mengakibatkan mereka
menyesatkan manusia, hamba-hamba-Mu, dari jalan yang Engkau redhai dan tuntunan
yang Engkau berikan. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta-benda mereka dan kunci
matilah hati mereka. Mereka tidak akan beriman dan kembali kepada jalan yang
benar sebelum melihat siksaan-Mu yang pedih."
Berkat doa Nabi Musa dan permohonannya yang
diperkenankan oleh Allah, maka dilandakanlah kerajaan Fir'aun oleh krisis keuangan
dan makanan, yang disebabkan mengeringnya sungai Nil sehingga tidak dapat
mengairi sawah-sawah dan ladang-ladang disamping serangan hama yang ganas yang
telah menghabiskan padi dan gandum yang sudah menguning dan siap untuk diketan.
Dan datang menyusul bala banjir yang besar disebabkan oleh hujan yang turun
dengan derasnya. Dan sebagai akibat dari banjir itu berjangkitlah
bermacam-macam wabah dan penyakit yang merisaukan masyarakat seperti hidung
berdarah dan lain-lain. Kemudian datanglah barisan kutu-kutu busuk dan
katak-katak yang menyerbu ke dalam rumah-rumah sehingga mengganggu ketenteraman
hidup mereka, menghilangkan kenikmatan makan, minum dan tidur, disebabkan
menyusupnya binatang-binatang itu ke dalam tempat-tempat tidur, hidangan
makanan dan di antara sela-sela pakaian mereka.
Pada waktu azab menimpa dan bencana-bencana itu
sedang melanda berdatanglah mereka kepada Nabi Musa minta pertolongannya demi
kenabiannya, agar memohonkan kepada Allah mengangkat bala itu dari atas mereka
dengan perjanjian bahwa mereka akan beriman dan menyerahkan Bani Isra'il kepada
Nabi Musa sekirannya mereka dapat ditolong dan terhindar dari azab bala itu.
Akan tetapi mereka mengingkari janji dan kembali
bersikap memusuhi dan menentang Nabi Musa, seolah-olah apa yang terjadi
bukanlah karena doa dan permohonan Musa kepada Allah tetapi karena hasil usaha
mrk sendiri.
Bani Isra'il keluar dari Mesir
Berduyun-duyunlah kaum Bani Isra’il datang
kepada Nabi Musa memohon pertolongannya agar mengeluarkan mereka dari Mesir. Kemudian
bertolaklah rombongan kaum Bani Isra'il di bawah pimpinan Nabi Musa
meninggalkan Mesir menuju Baitul Maqdis. Dengan berjalan kaki dengan cepat
karena takut tertangkap oleh Fir'aun dan bala tenteranya yang mengejar mereka
dari belakang akhirnya tibalah mereka pada waktu fajar di tepi lautan merah
setelah selama semalam suntuk dapat melewati padang pasir.
Mereka tidak meragukan lagi bahwa bila mereka
tertangkap, maka hukuman matilah yang akan mereka terima dari Fir'aun yang
zalim itu. Berkatalah salah seorang dari sahabat Nabi Musa, bernama Yusha' bin
Nun: "Wahai Musa, ke mana kami harus
pergi? Musuh berada di belakang kami sedang mengejar dan laut berada di depan
kami yang tidak dapat dilintasi tanpa sampan. Apa yang harus kami perbuat untuk
menyelamatkan diri dari kejaran Fir'aun dan kaumnya?"
Nabi Musa menjawab: "Janganlah kamu khuatir dan cemas, perjalanan kami telah
diperintahkan oleh Allah kepadaku, dan Dialah yang akan memberi jalan keluar
serta menyelamatkan kami dari cengkaman musuh yang zalim itu."
Turunlah wahyu Allah kepada Nabi-Nya dengan
perintah agar memukulkan air laut dengan tongkatnya. Maka dengan izin Allah
terbelah laut itu, tiap-tiap belahan merupakan seperti gunung yang besar. Di
antara kedua belahan air laut itu terbentang dasar laut yang sudah mengering
yang segera di bawah pimpinan Nabi Musa dilewatilah oleh kaum Bani Isra'il
menuju ke tepi timurnya.
Setelah mereka sudah berada di bahagian tepi
timur dalam keadaan selamat terlihatlah oleh mereka Fir'aun dan bala tentaranya
menyusuri jalan yang sudah terbuka di antara dua belah gunung air itu. Kembali
rasa cemas dan takut mengganggu hati mereka seraya memandang kepada Nabi Musa
seolah-olah bertanya apa yang hendak dia lakukan selanjutnya. Dalam pada itu
Nabi Musa telah diilhamkan oleh Allah agar bertenang menanti Fir'aun dan bala
tenteranya turun semua ke dasar laut. Karena takdir Allah tela mendahului bahwa
mereka akan menjadi bala tentera yang tenggelam.
Berkatalah Fir'aun kepada kaumnya tatkala
melihat jalan terbuka bagi mereka di antara dua belah gunung air itu: "Lihat bagaimana lautan terbelah
menjadi dua, memberi jalan kepada kami untuk mengejar orang-orang yang
melarikan diri itu. Meerka mengira bahwa mereka akan dapat melepaskan dari
kejaran dan hukumanku. Mereka tidak mengetahui bahwa perintahku berlaku dan
ditaati oleh laut, jangan lagi oleh manusia. Tidakkah ini semuanya membuktikan
bahwa aku adalah yang berkuasa yang harus disembah olehmu?"
Setelah Fir'aun dan bala tenteranya berada di
tengah-tengah lautan yang membelah itu, jauh dari ke dua tepinya, tibalah perintah
Allah dan kembalilah air yang menggunung itu menutupi jalur jalan yang terbuka
di mana Fir'aun dengan sombongnya sedang memimpin barisan tenteranya mengejar
Musa dan Bani Isra'il. Terpendamlah mereka hidup-hidup di dalam perut laut dan
berakhirlah riwayat hidup Fir'aun dan kaumnya untuk menjadi kenangan sejarah
dan ibrah bagi generasi yang akan datang.
Pada detik-detik akhir hayatnya, seraya berjuang
untuk menyelamatkan diri dari maut yang sudah berada di depan matanya,
berkatalah Fir'aun: "Aku percaya
bahwa tiada tuhan selain Tuhan Musa dan Tuhan Bani Isra'il. Aku beriman pada
Tuhan mereka dan berserah diri kepada-Nya sebagai salah seorang muslim."
Berfirmanlah Allah kepada Fir'aun yang sedang
menghadapi sakaratul-maut: "Baru
sekarangkah engkau berkata beriman kepada Musa dan berserah diri kepada-Ku?
Tidakkah kekuasaan ketuhananmu dapat menyelamatkan engkau dari maut? Baru
sekarangkah engkau sadar dan percaya setelah sepanjang hidupmu bermaksiat,
melakukan penindasan dan kezaliman terhadap hamba-hamba-Ku dan berbuat-sewenang-wenang,
merusak akhlak dan aqidah manusia-manusia yang berada di bawah kekuasaanmu.
Terimalah sekarang pembalasan-Ku yang akan menjadi pengajaran bagi orang-orang
yang akan datang sesudahmu. Akan Aku apungkan tubuh kasarmu untuk menjadi
peringatan bagi orang-orang yang meragukan akan kekuasaan-Ku."
Bani Isra'il pengikut-pengikut Nabi Musa masih
meragukan kematian Fir'aun. Mereka masih terpengaruh dengan kenyataan yang
ditanamkan oleh Fir'aun semasa ia berkuasa sebagai raja bahwa dia adalah
manusia luar biasa lain daripada yang lain dan bahwa dia akan hidup kekal
sebagai tuhan dan tidak akan mati. Khayalan yang masih melekat pada fikiran mereka
menjadikan mereka tidak mau percaya bahwa dengan tenggelamnya, Fir'aun sudah
mati. Mereka menyatakan kepada Musa bahwa Fir'aun mungkin masih hidup namun di
alam lain.
Nabi Musa berusaha menyakinkan kaumnya bahwa apa
yang terfikir oleh mereka tentang Fir'aun adalah suatu khayalan belaka dan
bahwa Fir'aun sebagai orang biasa telah mati tenggelam akibat pembalasan Allah
atas perbuatannya, menentang kekuasaan Allah mendustakan Nabi Musa dan
menindaskan serta memperhambakan Bani Isra'il. Dan setelah melihat dengan mata
kepala sendiri, tubuh-tubuh Firaun dan orang-orangnya terapung-apung di
permukaan air, hilanglah segala tahayul mereka tentang Fir'aun dan
kesaktiannya.
Menurut catatan sejarah, bahwa mayat Fir'aun
yang terdampar di pantai diketemukan oleh orang-orang Mesir, lalu diawet hingga
utuh sampai sekarang, sebagai mana dapat dilihat di muzium Mesir.
Nabi Musa A.S. dan Bani Isra'il setelah keluar dari Mesir
Nabi Musa A.S. dan Bani Isra'il setelah keluar dari Mesir
Berkatalah mereka kepada Nabi Musa: "Wahai Musa, buatlah untuk kamu sebuah
tuhan berhala sebagaimana mrk mempunyai berhala-berhala yang disembah sebagai
tuhan." Musa menjawab: "Sesungguhnya
kamu ini adalah orang-orang yang bodoh dan tidak berfikiran sehat. Persembahan
mereka itu kepada berhala adalah perbuatan yang sesat dan bathil serta pasti
akan dihancurkan oleh Allah. Patutkah aku mencari tuhan untuk kamu selain Allah
yang telah memberikan kurnia kepada kamu, dengan menyelamatkan kamu dari
Fir'aun, melepaskan kamu dari perhambaannya dan penindasannya serta memberikan
kamu kelebihan di atas umat-umat yang lain. Sesungguhnya suatu permintaan yang
aneh daripada kamu, bahwa kamu akan mencari tuhan selain Allah yang demikian
besar nikmatnya atas kamu, Allah pencipta langit dan bumi serta alam semesta.
Allah yang baru saja kamu saksikan kekuasaan-Nya dengan ditenggelamkannya
Fir'aun berserta bala tenteranya untuk keselamatan dan kelangsungan
hidupmu."
Perjalanan Nabi Musa dan Bani Isra'il
dilanjutkan ke Gurun Sinai di mana panas matahari teriknya dan sunyi dari pohon
atau bangunan di mana orang dapat berteduh. Atas permohonan Nabi Musa yang
didesak oleh kaumnya yang sedang kepanasan diturunkan oleh Allah di atas mereka
awan yang tebal untuk mereka bernaung dan berteduh di bawahnya dari panas
teriknya matahari. Di samping itu tatkala bekalan makanan dan minuman mereka
sudah berkurangan dan tidak mencukupi keperluan. Allah menurunkan hidangan
makanan "manna" - sejenis makanan yang manis sebagai madu dan
"salwa" - burung sebangsa puyuh dengan diiringi firman-Nya: "Makanlah Kami dari makanan-makanan
yang baik yang Kami telah turunkan bagimu."
Allah mewahyukan kepada Musa agar memukul batu
dengan tongkatnya. Lalu memancarlah dari batu yang dipukul itu dua belas mata
air, untuk dua belas suku bangsa Isra'il yang mengikuti Nabi Musa,
masing-masing suku mengetahui sendiri dari mata air mana mereka mengambil
keperluan airnya.
Terhadap tuntutan mereka yang aneh-aneh itu
berkatalah Nabi Musa: "Maukah kamu
memperoleh sesuatu yang rendah nilai dan harganya sebagai pengganti dari apa
yang lebih baik yang telah Allah kurniakan kepada kamu? Pergilah kamu ke suatu
kota di mana pasti kamu akan dapat apa yang telah kamu inginkan dan kamu
minta."
Musa bermunajat dengan Allah
Musa bermunajat dengan Allah
Menurut riwayat sementara ahli tafsir,
bahawasanya tatkala Nabi Musa berada di Mesir, ia telah berjanji kepada kaumnya
akan memberi mereka sebuah kitab suci. Di dalam kitab suci itu mereka akan
dapat petunjuk akan hal-hal yang halal dan haram, perbuatan yang baik yang
diredhai oleh Allah di samping perbuatan-perbuatan yang mungkar yang dapat
mengakibatkan dosa dan murkanya Tuhan.
Nabi Musa memohon kepada Allah agar diberinya
sebuah kitab suci untuk menjadi pedoman dakwah dan risalahnya kepada kaumnya.
Lalu Allah memerintahkan kepadanya agar untuk itu ia berpuasa selama tiga puluh
hari penuh, yaitu semasa bulan Zulkaedah. Kemudian pergi ke Bukit Thur Sina di
mana ia akan diberi kesempatan bermunajat dengan Tuhan serta menerima kitab
penuntun yang diminta.
Nabi Musa menggosokkan giginya dan mengunyah
daun-daunan dalam usahanya menghilangkan bau mulutnya. Ia ditegur oleh malaikat
yang datang kepadanya atas perintah Allah. Berkatalah malaikat itu kepadanya: "Hai Musa, mengapakah engkau harus
menggosokkan gigimu untuk menghilangkan bau mulutmu yang menurut anggapanmu
kurang sedap, padahal bau mulutmu dan mulut orang-orang yang berpuasa bagi kami
adalah lebih sedap dan lebih wangi dari baunya kasturi. Maka akibat tindakanmu
itu, Allah memerintahkan kepadamu berpuasa lagi selama sepuluh hari sehingga
menjadi lengkaplah masa puasamu sepanjang empat puluh hari."
Nabi Musa mengajak tujuh puluh orang yang telah
dipilih diantara pengikutnya untuk menyertainya ke bukit Thur Sina dan
mengangkat Nabi Harun sebagai wakilnya mengurus serta memimpin kaum yang
ditinggalkan selama kepergiannya ke tempat bermunajat itu.
Pada saat yang telah ditentukan tibalah Nabi Musa seorang diri di bukit Thur Sina mendahului tujuh puluh orang yang diajaknya turut serta. Dan ketika ia ditanya oleh Allah: "Mengapa engkau datang seorang diri mendahului kaummu, hai Musa?" Ia menjawab: "Mereka sedang menyusul di belakangku, wahai Tuhanku. Aku cepat-cepat datang lebih dahulu untuk mencapai ridha-Mu."
Pada saat yang telah ditentukan tibalah Nabi Musa seorang diri di bukit Thur Sina mendahului tujuh puluh orang yang diajaknya turut serta. Dan ketika ia ditanya oleh Allah: "Mengapa engkau datang seorang diri mendahului kaummu, hai Musa?" Ia menjawab: "Mereka sedang menyusul di belakangku, wahai Tuhanku. Aku cepat-cepat datang lebih dahulu untuk mencapai ridha-Mu."
Berkatalah Musa dalam munajatnya dengan Allah: "Wahai Tuhanku, nampakkanlah zat-Mu
kepadaku, agar aku dapat melihat-Mu"
Allah berfirman: "Engkau tidak akan sanggup melihat-Ku, tetapi cobalah lihat bukit itu, jika ia tetap berdiri tegak di tempatnya sebagaimana sedia kala, maka niscaya engkau akan dapat melihat-Ku." Lalu menolehlah Nabi Musa mengarahkan pandangannya kejurusan bukit yang dimaksudkan itu yang seketika itu juga dilihatnya hancur luluh masuk ke dalam perut bumi tanpa menghilangkan bekas. Maka terperanjatlah Nabi Musa, gementarlah seluruh tubuhnya dan jatuh pingsan.
Allah berfirman: "Engkau tidak akan sanggup melihat-Ku, tetapi cobalah lihat bukit itu, jika ia tetap berdiri tegak di tempatnya sebagaimana sedia kala, maka niscaya engkau akan dapat melihat-Ku." Lalu menolehlah Nabi Musa mengarahkan pandangannya kejurusan bukit yang dimaksudkan itu yang seketika itu juga dilihatnya hancur luluh masuk ke dalam perut bumi tanpa menghilangkan bekas. Maka terperanjatlah Nabi Musa, gementarlah seluruh tubuhnya dan jatuh pingsan.
Setelah ia sadar kembali dari pingsannya,
bertasbih dan bertahmidlah ia seraya memohon ampun kepada Allah atas
kelancangannya itu dan berkata: "Maha
Besarlah Engkau wahai Tuhanku, ampunilah aku dan terimalah taubatku dan aku
akan menjadi orang yang pertama beriman kepada-Mu."
Dalam kesempatan bermunajat itu, Allah menerimakan
kepada Nabi Musa kitab suci "Taurat" berupa kepingan-kepingan
batu-batu atau kepingan kayu menurut sementara ahli tafsir yang di dalamnya
tertulis segala sesuatu secara terperinci dan jelas mengenai pedoman hidup dan
penuntun kepada jalan yang diridhai oleh Allah.
Allah mengiring pemberian "Taurat"
kepada Musa dengan firman-Nya: "Wahai
Musa, sesungguhnya Aku telah memilih engkau lebih dari manusia-manusia yang
lain di masamu, untuk membawa risalah-Ku dan menyampaikan kepada
hamba-hamba-Ku. Aku telah memberikan kepadamu keistimewaan dengan dapat
bercakap-cakap langsung dengan Aku, maka bersyukurlah atas segala kurnia-Ku
kepadamu dan berpegang teguhlah pada apa yang Aku tuturkan kepadamu. Dalam
kitab yang Aku berikan kepadamu terhimpun tuntunan dan pengajaran yang akan
membawa Bani Isra'il ke jalan yang benar, ke jalan yang akan membawa
kebahagiaan dunia dan akhirat bagi mereka. Anjurkanlah kaummu Bani Isra'il agar
mematuhi perintah-perintah-Ku jika mereka tidak ingin Aku tempatkan mereka di
tempat-tempat orang-orang yang fasiq."
Bani Isra'il kembali menyembah patung anak lembu
Bani Isra'il kembali menyembah patung anak lembu
Nabi Musa berjanji kepada Bani Isra'il yang
ditinggalkan di bawah pimpinan Nabi Harun bahwa ia tidak akan meninggalkan
mereka lebih lama dari tiga puluh hari, tetapi berhubung dengan adanya perintah
Allah kepada Musa untuk melengkapi jumlah hari puasanya menjadi empat puluh
hari, maka janjinya itu tidak dapat ditepati dan kedatangannya tertunda menjadi
sepuluh hari lebih lama daripada yang telah dijanjikan.
Bani Isra'il merasa kecewa dan menyesalkan
kelambatan kedtgan Nabi Musa kembali. Meerka menggerutu dan mengomel dengan
melontarkan kata-kata kepada Nabi Musa seolah-olah ia telah meninggalkan mereka
dalam kegelapan dan dalam keadaan yang tidak menentu. Mereka merasa seakan-akan
telah kehilangan pimpinan yang biasanya memberi bimbingan dan petunjuk-petunjuk
kepada mereka.
Keadaan itu, digunakan oleh munafiq, bernama
Samiri yang telah berhasil menyusup ke tengah-tengah mereka, sebagai kesempatan
yang baik untuk menyebarkan benih syiriknya dan merusakkan akidah para pengikut
Nabi Musa yang baru saja menerima ajaran tauhid dan iman kepada Allah. Samiri
yang munafiq itu menghasut mereka dengan kata-kata bahwa Musa telah tersesat
dalam tugasnya mencari Tuhan bagi mereka dan bahawa dia tidak dapat diharapkan
kembali dan karena itu dianjurkan oleh Samiri agar mereka mencari tuhan lain sebagai
ganti dari Tuhan Musa.
Samiri melihat bahwa hasutan itu dapat
menggoyahkan iman dan akidah pengikut-pengikut Musa. Patung itu berbentuk anak
lembu yang dibuatnya dari emas yang dikumpulkan dari perhiasan para wanita.
Dengan kepandaian tektiknya patung itu dibuat begitu rupa sehingga dapat
mengeluarkan suara menguap seakan-akan anak lembu sejati yang hidup. Maka
diterimalah anak patung lembu itu oleh Bani Isra'il pengikut Nabi Musa sebagai
tuhan persembahan mereka.
Ditegurlah mereka oleh Nabi Harun yang berkata: "Alangkah bodohnya kamu ini! Tidakkah
kamu melihat anak lembu yang kamu sembah ini tidak dapat bercakap-cakap dengan
kamu dan tidak pula dapat menuntun kamu ke jalan yang benar. Kamu telah
menganiaya diri kamu sendiri dengan menyembah pada sesuatu selain Allah."
Teguran Nabi Harun itu dijawab oleh mereka yang
telah termakan hasutan Samiri itu dengan kata-kata: "Kami akan tetap berpegang pada anak lembu ini sebagai tuhan
persembahan kami sampai Musa kembali ke tengah-tengah kami."
Dalam pada itu, Nabi Musa setelah selesai
bermunajat dengan Tuhan dan dalam perjalanannya kembali. Nabi Musa sangat marah
dan sedih hati tatkala ia tiba di tempat dan melihat kaumnya sedang berpesta
mengelilingi anak patung lembu emas, menyembahnya dan memuji-mujinya. Dan
karena ansgat marah dan sedihnya ia tidak dapat menguasai dirinya,
kepingan-kepingan Taurat dilemparkan berantakan. Harun saudaranya dipegang
rambut kepalanya ditarik kepadanya seraya berkata menegur: "Apa yang engkau buat tatkala engkau melihat mereka tersesat dan
terkena oleh hasutan dan fitnahan Samiri? Tidakkah engkau mematuhi perintahku
dan pesanku ketika aku menyerahkan mereka kepadamu untuk engkau pimpin?
Tidakkah engkau berdaya melawan hasutan Samiri dengan memberi petunjuk dan
penerangan kepada mereka dan mengapa engkau tidak cepat memadamkan api
kemurtadan ini sebelum menjadi besar begini?"
Harun berkata menanggapi teguran Musa: "Hai anak ibuku, janganlah engkau
memegang jangut dan rambut kepalaku, menarik-narikku. Aku telah berusaha
memberi nasihat dan teguran kepada mereka, namun mereka tidak
mengindahkan kata-kataku. Mereka menganggapkan aku lemah dan mengancam akan
membunuhku. Aku khawatir jika aku menggunakan sikap dan tindakan yang keras,
akan terjadi perpecahan dan permusuhan di antara sesama kita, hal mana akan
menjadikan engkau lebih marah dan sedih. Lepaskanlah aku dan janganlah
membuatkan musuh-musuhku bergembira melihat perlakuanmu terhadap diriku.
Janganlah disamakan aku dengan orang-orang yang zalim."
Nabi Musa kepada Samiri: "Hai Samiri, apakah yang mendorongmu menghasut dan menyesatkan
kaumku, sehingga mereka kembali menjadi murtad, menyembah patung yang engkau
buatkan dari emas itu?"
Samiri menjawab: "Aku telah melihat sesuatu yang mereka tidak melihatnya. Aku
telah melihat kuda malaikat Jibril. aku mengambil segenggam tanah bekas jejak
telapak kakinya itu, lalu aku lemparkannya ke dalam emas yang mencair di atas
api dan terjadilah patung anak lembu yang dapat menguak, mengeluarkan suara
sebagaimana anak lembu biasa. Demikianlah hawa nafsuku membujukku untuk berbuat
itu."
Berkata Nabi Musa kepada Samiri: "Pergilah engkau dan jauhilah pergaulan
manusia sebab karena perbuatan kamu itu engkau harus dipencilkan dan menjadi
tabu {sesuatu yang terlarang} jika disentuh atau menyentuh seseorang ia akan
menderita sakit demam panas. Ini adalah ganjaranmu di dunia, sedang di akhirat
nerakalah akan menjadi tempatmu. Dan tuhanmu yang engkau buat dan sembah ini
kami akan bakar dan campakkannya ke dalam laut."
Kemudian berpalinglah Nabi Musa kepada kaumnya
berkata: "Hai kaumku, alangkah
buruknya perbuatan yang kamu telah kerjakan setelah kepergianku! Apakah engkau
hendak mendahului janji Tuhanmu? Bukankah Tuhanmu telah menjanjikan kepadamu
janji yang baik, berupa kitab suci? Ataukah engkau menghendaki kemurkaan Tuhan
menimpa atas dirimu, karena perbuatanmu yang buruk itu dan perlanggaranmu
terhadap perintah-perintah dan ajaran-ajaranku."
Kaum Musa menjawab: "Kami tidak sesekali melanggar perjanjianmu dengan kemauan kami
sendiri, akan tetapi kami disuruh membawa beban-beban perhiasan yang berat
kepunyaan orang Mesir yang atas anjuran Samiri kami lemparkan ke dalam api yang
sedang menyala. Kemudian perhiasan-perhiasan yang kami lemparkan itu menjelma
menjadi patung anak lembu yang bersuara, sehingga dapat menyilaukan mata kepala
kami dan menggoyahkan iman yang sudah tertanam di dalam dada kami."
Berkata Musa kepada mereka: "Sesungguhnya kamu telah berbuat dosa besar dan menyia-nyiakan
dirimu sendiri dengan menjadikan patung anak lembu itu sebagai persembahanmu,
maka bertaubatlah kamu kepada Tuhan, Penciptamu dan Pencipta alam semesta dan
mohonlah ampun daripadanya agar Dia menunjukkan kembali kepada jalan yang
benar."
Akhirnya kaum Musa itu sadar atas kesalahannya
dan mengakui bahwa mereka telah disesatkan oleh syaitan dan memohon ampun dan
rahmat Allah. Demikian pula Nabi Musa beristighfar memohon ampun baginya dan
bagi Harun saudaranya setalah ternyata bahwa ia tidak melalaikan tugasnya
sebagai wakil Musa dalam menghadapi krisis iman yang dialami oleh kaumnya.
Berdoa Musa kepada Tuhannya: "Ya
Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami berdua ke dalam
lingkaran rahmat-Mu sesungguhnya Engkaulah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang."
Kepingan-kepingan Taurat yang bertaburan sudah
dihimpun dan disusun sebagaimana asalnya, maka Allah memerintahkan kepada Musa
agar membawa sekelompok dari kaumnya menghadap untuk meminta ampun.
Tujuh puluh orang dipilih oleh Nabi Musa, mereka
diperintahkan untuk keperluan itu agar berpuasa, mensucikan diri, pakaian
mereka dan pada waktu yang telah ditentukan berangkatlah Nabi Musa bersama
tujuh puluh orang itu menuju ke bukit Thur Sina.
Setiba mereka di Thur Sina turunlah awan yang
tebal meliputi seluruh bukit, kemudian masuklah Nabi Musa diikuti para
pengikutnya ke dalam awan gelap itu dan segera mereka bersujud. Dan sementara
bersujud terdengarlah oleh kelompok tujuh puluh itu percakapan Nabi Musa dengan
Tuhannya. Pada saat itu timbullah dalam hati mereka keinginan untuk melihat Zat
Allah dengan mata kepala mereka setelah mendengar percakapan-Nya dengan
telinga. Maka setelah selesai Nabi Musa bercakap-cakap dengan Allah berkatalah
mereka kepadanya: "Kami tidak akan
beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang." Dan
sebagai jawaban atas keinginan mereka yang menunjukkan keingkaran dan
ketakaburan itu, Allah seketika itu juga mengirimkan halilintar yang menyambar
dan merenggut nyawa mereka sekaligus.
Nabi Musa merasa sedih melihat nasib fatal yang
menimpa kelompok tujuh puluh orang yang merupakan orang-orang yang terbaik di
antara kaumnya. Ia berseru memohon kepada Allah agar diampuni dosa mereka
seraya berkata: "Wahai Tuhanku, aku
telah pergi ke Thur Sina dengan tujuh puluh orang yang terbaik di antara kaumku
kemudian aku akan kembali seorang diri, pasti kaumku tidak akan mempercayaiku.
Ampunilah dosa mereka, wahai Tuhanku dan kembalilah kepada mereka nikmat hidup
yang Engkau telah cabut sebagai pembalasan atas keinginan dan permintaan mereka
yang durhaka itu."
Alah memperkenankan doa Musa dan permohonannya
dengan dihidupkan kembali kelompok tujuh puluh orang itu, maka bangunlah mereka
seakan-akan orang yang baru sadar dari pingsannya. Kemudian pada kesempatan itu
Nabi Musa mengambil janji dari mereka bahwa mereka akan berpegangan teguh
kepada kitab Taurat sebagai pedoman hidup mereka melaksanakan
perinta-perintahnya dan menjauhi segala apa yang dilarangnya.
Bani
Isra'il mengembara tidak berketentuan tempat tinggalnya
Demikianlah tatkala Allah mewahyukan
perintah-Nya kepada Nabi Musa untuk memimpin kaumnya pergi ke Palestin, tempat
suci yang telah dijanjikan oleh Allah kepada Nabi Ibrahim untuk menjadi tempat
tinggal anak cucunya, mereka membangkang dan enggan melaksanankan perintah itu.
Alasan penolakan mereka ialah karena mereka harus menghadapi suku
"Kana'aan" yang menurut anggapan mereka adalah orang-orang yang kuat
dan perkasa yang tidak dapat dikalahkan dan diusir dengan aduan kekuatan.
Mereka tidak mempercayai janji Allah melalui Musa, bahwa dengan pertolongan-Nya
mereka akan dapat mengusir suku Kan'aan dari kota Ariha untuk dijadikan tempat
pemukiman mereka selama-lamanya.
Berkata mereka tanpa malu, menunjuk sifat pengejutnya
kepada Musa: "Hai Musa, kami tidak
akan memasuki Ariha sebelum orang-orang suku Kan'aan itu keluar. Kami tidak
berdaya menghadapi mereka dengan kekuatan fizikal kerana mereka telah terkenal
sebagai orang-orang yang kuat dan perkasa. Pergilah engkau berserta Tuhanmu
memerangi dan mengusir orang-orang suku Kan'aan itu dan tinggalkanlah kami di
sini sambil menanti hasil perjuanganmu."
Naik pitamlah Nabi Musa melihat sikap kaumnya
yang pengecut itu untuk mendapat tempat pemukiman tetapi ingin memperolehnya
secara hadiah atau melalui mukjizat. Dan yang menyedihkan hati Musa ialah
kata-kata mengejek mereka yang menandakan bahwa dada mereka masih belum bersih
dari benih kufur dan syirik kepada Allah.
Dalam keadaan marah, berdoalah Nabi Musa kepada
Allah: "Ya Tuhanku, aku tidak
menguasai selain diriku dan diri saudaraku Harun, maka pisahkanlah kami dari
orang-orang yang fasiq yang mengingkari nikmat dan kurnia-Mu."
Sebagaimana hukuman bagi Bani Isra'il yang telah
menolak perintah Allah, Allah mengharamkan negeri itu atas mereka selama empat
puluh tahun dan selama itu mereka akan mengembara berkeliaran di atas bumi
Allah tanpa mempunyai tempat mukim yang tetap. Mereka hidup dalam kebingungan
sampai musnahlah mereka semuanya dan datang menyusul generasi baru yang akan
mewarisi negeri yang suci itu sebagaimana yang telah disanggupkan oleh Allah
kepada Nabi Ibrahim a.s.
Kisah sapi Bani Isra'il
Kisah sapi Bani Isra'il
Salah satu dari beberapa mukjizat yang telah
dinerikan oleh Allah kepada Nabi Musa ialah penyembelihan sapi yang terkenal dengan
sebutan sapi Bani ISra'il.
Dikisahkan bahwa ada seorang anak laki-laki
putera tunggal dari seorang kaya-raya memperolehi warisan harta peninggalan
yang besar dari ayahnya yang telah wafat tanpa meninggalkan seorang pewaris
selain putera tunggalnya itu.
Saudara-saudara sepupu dari putera tunggal itu
iri hati dan ingin menguasai harta peninggalan yang besar itu atau
setidak-tidaknya sebahagian daripadanya. Dan kerana menurut hukum yang berlaku
pada waktu itu yang tidak memberikan hak kepada mereka untuk memperoleh walau
sebaagian dari peninggalan bapa saudara mereka, mereka bersekongkol untuk
membunuh saudara sepupu pewaris itu, sehingga bila ia sudah mati hak atau
warisan yang besar itu akan jatuh kepada mereka.
Pembunuh atas pewaris sah itu dilaksanakan
menurut rencana yang tersusun rapi kemudian datanglah mereka kepada Nabi Musa
melaporkan, bahwa mereka telah menemukan saudara sepupunya mati terbunuh oleh
seorang yang tidak dikenal identitinya maupun tempat di mana ia menyembunyikan
diri. Mereka mengharapkan Nabi Musa dapat menyingkap tabir yang menutupi
peristiwa pembunuhan itu serta siapakah gerangan pembunuhnya.
Untuk keperluan itu, Nabi Musa memohon
pertolongan Allah yang segera menwahyukan perintah kepadanya agar ia
menyembelih seekor sapi dan dengan lidah sapi yang disembelih itu dipukullah
mayat sang korban yang dengan izin Allah akan bangun kembali memberitahukan
siapakah sebenarnya yang telah melakukan pembunuhan atas dirinya.
Tatkala Nabi Musa menyampaikan cara yang
diwahyukan oleh Allah itu kepada kaumnya ia ditertawakan dan diejek karena akal
mereka tidak dapat menerima bahwa hal yang sedemikian itu boleh terjadi. Mereka
lupa bahwa Allah telah berkali-kali menunjukkan kekuasaan-Nya melalui mukjizat
yang diberikan kepada Musa yang kadang kala bahkan lebih hebat dan lebih sukar
untuk diterima oleh akal manusia berbanding mukjizat yang mereka hadapi dalam
peristiwa pembunuhan pewaris itu.
Berkata mereka kepada Musa secara mengejek: "Apakah dengan cara yang engkau usulkan
itu, engkau bermaksud hendak menjadikan kami bahan ejekan dan tertawaan orang?
Akan tetapi kalau memang cara yang engkau usulkan itu adalah wahyu, maka cobalah
tanya kepada Tuhanmu, sapi betina atau jantankah yang harus kami sembelih? Dan
apakah sifat-sifatnya serta warna kulitnya agar kami tidak dapat salah memilih
sapi yang harus kami sembelih?"
Musa menjawab: "Menurut petunjuk Allah, yang harus disembelih itu ialah sapi
betina berwarna kuning tua, belum pernah dipakai untuk membajak tanah atau
mengairi tanaman tidak cacat dan tidak pula ada belangnya."
Kemudian dikirimkanlah orang ke pelosok desa dan
kampung-kampung mencari sapi yang dimaksudkan itu yang akhirnya diketemukannya
pada seorang anak yatim piatu yang memiliki sapi itu sebagai satu-satunya harta
peninggalan ayahnya serta menjadi satu-satunya sumber nafkah hidupnya. Ayah
anak yatim itu adalah seorang fakir miskin yang soleh, ahli ibadah yang tekun
yang pada saat mendekati waktu wafatnya, berdoalah kepada Allah memohon
perlindungan bagi putera tunggalnya yang tidak dapat meninggalkan warisan
apa-apa baginya selain seekor sapi itu. Maka berkat doa ayah yang soleh itu
terjuallah sapi si anak yatim itu dengan harga yang berlipat ganda karena
memenuhi syarat dan sifat-sifat yang diisyaratkan oleh Musa untuk disembelih.
Setelah disembelih sapi yang dibeli dari anak
yatim itu, diambillah lidahnya oleh Nabi Musa, lalu dipukulkannya pada tubuh
mayat, yang seketika bangunlah ia hidup kembali dengan izin Allah, menceritakan
kepada Nabi Musa dan para pengikutnya bagaimana ia telah dibunuh oleh
saudara-saudara sepupunya sendiri.
Demikianlah mukjizat Allah yang kesekian kalinya
diperlihatkan kepada Bani Isra'il yang keras kepala dan keras hati itu namun
belum juga dapat menghilangkan sifat-sifat congkak dan membangkang mereka atau
mengikis-habis bibit-bibit syirik dan kufur yang masih melekat pada dada dan
hati mereka.
Nabi Musa A.S. dan Al-Khidir
Nabi Musa A.S. dan Al-Khidir
Pada suatu ketika berpidatolah Nabi Musa di
depan kaumnya Bani Isra'il. Ia berdakwah kepada mereka, memberi nasihat dengan
mengingatkan kepada mereka akan kurnia dan nikmat Allah yang telah dicurahkan
kepada mereka yang sepatutnya diimbangi dengan syukur dan pelaksanaan ibadah
yang tulus, melakukan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya.
Kepada mereka yang beriman, bertaat dan bertakwa, Nabi Musa menjanjikan pahala
syurga dan bagi mereka yang mengingkari nikmat Allah diancam dengan siksa api
neraka.
Begitu Nabi Musa mengakhiri pidatonya bangunlah
di antara para hadiri bertanya kepadanya:
"Wahai Musa, siapakah di atas bumi
Allah ini paling pandai dan paling berpengetahuan?" "Aku",
jawab Musa. “Apakah tidak ada kiranya
orang yang lebih pandai dan lebih berpengetahuan daripadamu?" Tanya
lagi si penanya itu. "Tidak
ada" , ujar Musa seraya berkata dalam hati kecilnya: " Bukankah aku Nabi terbesar di antara
Bani Isra'il? Aku adalah penakluk Fir'aun, pemegang berbagai mukjizat, yang
telah dapat membelah laut dengan tongkatku dan akulah yang memperoleh
kesempatan bercakap-cakap langsung dengan Tuhan. Maka kemuliaan apa lagi yang
dapat melebihi kemuliaan serta kebesaran yang aku capai itu, yang belum pernah
dialami dan dicapai oleh sesiapa pun sebelum aku."
Rasa sombong dan keunggulan diri yang tercermin
dalam kata-kata Nabi Musa, dicela oleh Allah. Selanjutnya untuk melanjutkan
kekurangan yang ada pada diri Nabi Musa Allah memerintahkan kepadanya agar
menemui seorang hamba-Nya di suatu tempat di mana dua lautan bertemu. Hamba
yang soleh yang telah diberinya rahmat dan ilmu oleh Allah itu akan memberi
tambahan pengetahuan dan ilmu kepada Nabi Musa sehingga dapat menjadikan sadar
bahwa tiada manusia yang dapat membanggakan diri dengan mengatakan bahwa akulah
orang yang terpandai dan berpengetahuan luas di atas bumi ini.
Berkata Musa kepada Tuhan: "Wahai Tuhanku, aku akan pergi mencari hamba-Mu yang soleh itu,
bagi memperolehi bunga api ilmunya dan mendapat titisan air pengetahuan dan
ilham yang Engkau telah berikan kepadanya."
Allah berfirman kepada Musa: "Bawalah seekor ikan didalam sebuah
keranjang dalam perjalananmu mencari dia dan ketahuilah bahwa di tempat di mana
engkau akan kehilangan ikan di dalam keranjang itu, di situ engkau akan menemui
hamba-Ku yang soleh itu." Nabi
Musa menyiapkan diri untuk perjalanan yang jauh, didampingi oleh "Yusya'
bin Nun" seorang pengikutnya yang setia. Ia membawa bekal makanan dan
minuman di antaranya sebuah keranjang yang terisi seekor ikan sesuai dengan
petunjuk Allah. Ia berkeras hati tidak akan kembali sebelum ia dapat menemui
hamba yang soleh itu walaupun ia harus melakukan perjalanan yang berbulan-bulan
bahkan bertahun-tahun bila perlu. Ia berpesan kepada teman sepejalanannya
Yusya' bin Nun agar segera memberitahu kepadanya bilamana ikan yang di dalam
keranjang yang dibawanya itu hilang.
Tatkala Nabi Musa nerserta Yusya' bin Nun sampai
di mana dua lautan bertemu yang telah diisyaratkan dalam firman Allah
kepadanya, tertidurlah ia di atas sebuah batu yang besar yang berada di tepi
lautan. Pada saat ia lagi tidur nyenyak, turunlah hujan rintik-rintik,
membasahi seekor di dalam keranjang itu dan tanpa mereka ketahui melompatlah
ikan tersebut itu masuk ke dalam laut.
Setelah Musa terjaga dari tidurnya, bangunlah
mereka meneruskan perjalanan yang tidak menentu arah mahupun tujuan. Dan dalam
perjalanan yang sudah agak jauh, berhentilah Musa beristirehat sekadar untuk
menghilangkan rasa penatnya seraya meminta dari Yusya bin Nun agar menyiapkan
santapannya karena ia sudah sangat lapar. Ketika Yusya bin Nun membuka
keranjang untuk mengambil makanan teringatlah olehnya akan ikan yang hilang dan
melompat ke dalam laut. Maka berkatalah Yusya' kepada Nabi Musa: "Aku telah dilupakan oleh syaitan untuk
memberitahu kepadamu segera, bahwa tatkala engkau berada di atas batu karang
sedang tidur nyenyak, ikan kami yang berada di dalam keranjang tiba-tiba hidup
kembali setelah kejatuhan air hujan dan melompat masuk ke dalam laut.
Sepatutnya aku melapurkan kkepadamu segera, sesuai dengan pesananmu, namun aku
dilupakan oleh syaitan."
Wajah Nabi Musa berseri-seri menjadi kegirangan
mendengar berita itu dari Yusya' karena telah dapat mengetahui di mana ia akan
dapat bertemu dengan hamba Allah yang dicari itu. Berkata Musa kepada Yusya': "Inilah tempat yang kami tuju dan
disini kami akan menemui orang yang kami cari. Marilah kami kembali ke tempat
batu karang itu yang menjadi tempat tujuan terakhir dari perjalanan kami yang
jauh ini."
Setiba mereka kembali di tempat di mana mereka
kehilangan ikan, mereka melihat seorang bertubuh kurus langsing yang pada
wajahnya tampak cahaya dan iman serta tanda-tanda orang soleh. Ia sedang menutupi
tubuhnya dan pakaiannya sendiri, yang segera disingkapnya ketika mendengar
kata-kata salam Nabi Musa kepadanya.
"Siapakah
engkau?" bertanya orang
soleh itu. Musa menjawab: "Aku
adalah Musa." Bertanya kembali orang soleh itu: "Musa, nabi Bani Isra'ilkah?"
"Betul", jawab Musa, seraya bertanya: "Dari manakah engkau mengetahui bahawa aku adalah Nabi Bani Isra'il?"
"Betul", jawab Musa, seraya bertanya: "Dari manakah engkau mengetahui bahawa aku adalah Nabi Bani Isra'il?"
"Dari
yang mengutusmu kepadaku",
jawab orang soleh itu. "Inilah hamba
Allah yang aku cari", berkata Musa dalam hatinya, seraya mendekatinya
dan berkata kepadanya: "Dapatkah
engkau memperkenankan aku mengikutimu dan berjalan bersamamu ke mana saja
engkau pergi sebagai bayanganmu dan sebagai muridmu? Aku akan mematuhi segala
petunjuk dan perintahmu."
Hamba soleh atau menurut banyak pendapat
ahli-ahli tafsir Nabi Al-Khidhir itu menjawab: "Engkau tidak akan sabar dan tidak dapat menahan diri bila engkau
mengikutiku dan berjalan bersamaku. Engkau akan mengalami dan melihat hal-hal
yang ajaib yang sepintas lalu nampak seakan-akan perbuatan yang salah dan
mungkar namun pada hakikatnya adalah perbuatan benar dan wajar dab engkau
sebagai manusia tidak akan berdiam diri melihatku melakukan perbuatan dan
tingkah laku yang ganjil menurut pandanganmu."
Musa menjawab dengan sikap seorang murid yang
ingin belajar dan menambah pengetahuan : "Insya-Allah
engkau akan mendapati aku seorang yang sabar yang tidak akan melanggar sesuatu
perintah atau petunjuk daripadamu."
Berkata Al-Khidhir kepada Musa: "Jika engkau benar-benar ingin
mengikutiku dan berjalan bersamaku maka engkau harus berjanji tidak akan
mendahului bertanya tentang sesuatu sebelum aku memberitahukan kepadamu. Engkau
harus berjanji bahwa engkau tidak akan menentang segala perbuatan dan tindakan
yang aku lakukan dihadapan mu walaupun menurut pandanganmu itu salah dan
mungkar. Aku dengan sendirinya memberi alasan dan tafsiran bagi segala tindakan
dan perbuatanmu kepadamu kelak pada akhir perjalanan kami berdua."
Dengan diterimanya pesyaratan Nabi Al-Khidhir
oleh Musa yang berjanji akan mematuhinya bulat-bulat, maka diajaklah Nabi Musa
mengikutinya dalam perjalanan.
Pelanggaran pertama terhadap persyaratan Al-Khidhir terjadi tatkala mereka sampai di tepi pantai, di mana terdapat sebuah perahu sedang berlabuh. Nabi Al-Khidhir meminta pertolongan pemilik perahu itu, agar menghantar mereka di suatu tempat yang di tuju. Dengan senang hati diangkutlah mereka berdua secara percuma tanpa bayaran bahkan dihormati dan diberi layanan yang baik kerana dilihatnya oleh pemilik perahu bahwa kedua orang itu memiliki sifat-sifat dan ciri-ciri yang tidak terdapat pada orang biasa.
Pelanggaran pertama terhadap persyaratan Al-Khidhir terjadi tatkala mereka sampai di tepi pantai, di mana terdapat sebuah perahu sedang berlabuh. Nabi Al-Khidhir meminta pertolongan pemilik perahu itu, agar menghantar mereka di suatu tempat yang di tuju. Dengan senang hati diangkutlah mereka berdua secara percuma tanpa bayaran bahkan dihormati dan diberi layanan yang baik kerana dilihatnya oleh pemilik perahu bahwa kedua orang itu memiliki sifat-sifat dan ciri-ciri yang tidak terdapat pada orang biasa.
Tatkala mereka berada dalam perut perahu yang
sedang meluncur dengan lajunya di antara gelombang-gelombang tiba-tiba Musa
melihat Al-Khidhir melubangi perahu itu dengan mengambil dua keping kayunya.
Perbuatan mana yang dianggap oleh Musa suatu gangguan dan pengrusakan bagi
milik seseorang yang telah berbuat baik terhadap mereka.
Musa lupa akan janjinya sendiri dan ditegulah Al-Khidhir dengan berkata: "Engkau telah melakukan perbuatan mungkar dengan merusak dan melubangi perahu ini. Apakah dengan perbuatan kamu ini engkau hendak menenggelamkan perahu ini dengan semua penumpangnya? Tidakkah engkau merasa kasihan kepada pemilik perahu ini yang telah berjasa kepada kami dan menghantarkan kami ke tempat yang kami tuju tanpa membayar sesen pun?"
Musa lupa akan janjinya sendiri dan ditegulah Al-Khidhir dengan berkata: "Engkau telah melakukan perbuatan mungkar dengan merusak dan melubangi perahu ini. Apakah dengan perbuatan kamu ini engkau hendak menenggelamkan perahu ini dengan semua penumpangnya? Tidakkah engkau merasa kasihan kepada pemilik perahu ini yang telah berjasa kepada kami dan menghantarkan kami ke tempat yang kami tuju tanpa membayar sesen pun?"
Berkata Al-Khidhir menjawab teguran Musa: "Bukankah aku telah katakan kepadamu
bahawa engkau tidak akan sabar menahan diri melihat tindak-tandukku di dalam
perjalanan menyertaiku."
Musa berkata: "Maafkanlah daku. Aku telah lupa akan janjiku sendiri. Janganlah
aku dipersalahkan dan dimarahi akan kelupaanku."
Permintaan maaf Musa diterimalah oleh Al-Khidhir
dan tibalah meeka berdua di tempat yang dituju di sebuah pantai. Kemudian
perjalanan dilanjutkan di darat dan bertemulah mereka dengan seorang anak
laki-laki yang sedang bermain-main dengan kawan-kawannya. Tiba-tiba
dipanggillah anak itu oleh Al-Khidhir, dibawanya ke tempat yang agak jauh,
dibaringkannya dan dibunuhnya seketika itu. Alangkah terperanjatnya Musa
melihat tindakan Al-Khidhir yang dengan sewenang-wenangnya telah membunuh
seorang anak yang tidak berdosa, seorang yang mungkin sekali dalam fikiran Musa
adalah harapan satu-satunya bagi kedua orang tuanya.
Musa sebagai Nabi yang diutus oleh Allah untuk
memerangi kemungkaran dan kejahatan tidak dapat berdiam diri melihat Al-Khidhir
melakukan pembunuhan yang tiada beralasan itu, maka ditegurlah ia seraya
berkata: "Mengapa engkau telah
membunuh seorang anak yang tidak berdosa? Sesungguhnya engkau telah melakukan
perbuatan yang mungkar dan keji."
Al-Khidhir menjawab dengan sikap dinginnya: "Bukankah aku telah berkata kepadamu,
bahwa engkau tidak akan sabar menahan diri berjalan dengan aku?"
Dengan rasa malu mendengar teguran Al-Khidhir
itu, berucaplah Musa: "Maafkanlah
aku untuk kedua kalinya dan perkenankanlah untuk aku meneruskan perjalanan
bersamamu dengan pergertian bahwa bila terjadi lagi perlanggaran dari pihakku
untuk kali ketiganya, maka janganlah aku diperbolehkan menyertaimu
seterusnya.Sesungguhnya telah cukup engkau memberi uzur dan memberi maaf
kepadaku."
Dengan janji terakhir yang diterima oleh
Al-Khidhir dari Musa diteruskanlah perjalanan mereka berdua sampai tiba di
suatu desa di mana mereka ingin beristirahat untuk menghilangkan lelah dan
penat mereka akibat perjalanan jauh yang telah ditempuh. Mereka berusaha untuk
mendapat tempat penginapan sementara dan sedikit bahan makanan untuk sekadar
mengisi perut kosong mereka, namun tidak seorang pun dari penduduk desa yang
memang terkenal bachil {pelit} itu yang mau menolong mereka memberi tempat
beristirahat atau sesuap makanan sehingga dengan rasa kecewa mereka segera
meninggalkan desa itu.
Dalam perjalanan Musa dan Al-Khidhir hendak
keluar dari desa itu mereka melihat dinding salah satu rumah desa itu nyaris
roboh. Segera AL-Khidhir menghampiri dinding itu dan ditegakkannya kembali. Dan
secara spontan, tanpa disedar, berkata Musa kepada Al-Khidhir: "Hairan bin ajaib, mengapa engkau
berbuat kebaikan bagi orang-orang yang jahat dan pelit ini. Mereka telah
menolak untuk memberi kepada kami tempat istirehat dan sesuap makanan untuk
perut kami yang lapar. Sepatutnya engkau menuntut upah bagi usahamu menegakkan
dinding itu, agar dengan upah yang engkau perolehi itu dapat kami menutupi
keperluan makan minum kami."
Al-Khidhir menjawab: "Wahai Musa, inilah saat untuk kami berpisah sesuai dengan janjimu
yang terakhir. Cukup sudah aku memberimu kesempatan dan uzur. Akan tetapi
sebelum kami berpisah , akan aku berikan kepadamu tujuan serta alasan-alasan
perbuatan-perbuatanku yang engkau rasakan tidak wajar dan kurang patut."
"Ketahuilah
hai Musa", Al-Khidhir
melanjutkan huraiannya,"bahwa
pengrusakan bahtera yang kami tumpangi itu adalah dimaksudkan untuk
menyelamatkannya dari pengambil-alihan oleh seorang raja yang zalim yang sedang
mengejar di belakang bahtera itu. Sedang bahtera itu adalah milik orang-orang
fakir-miskin yang digunakan sebagai sarana mencari nafkah bagi hidup mereka
sehari-hari. Dengan melubangi yang aku lakukan dalam bahtera itu, si raja yang
zalim itu akan berfikir dua kali untuk merampas bahtera itu yang dianggapnya
rusak dan berlubang itu. Maka perbuatanku yang pada lahirnya adalah pengrusakan
milik orang, namun tujuannya ialah menyelamatkannya dari tindakan perampasan
sewenang-wenangnya."
"Adapun
tentang anak yang aku bunuh itu ialah bertujuan menyelamatkan kedua orang
tuanya dari gangguan anak yang durhaka itu. Kedua orang tua anak itu adalah
orang-orang yang mukmin, soleh dan bertakwa yang aku khuatirkan akan menjadi
tersesat dan melakukan hal-hal yang buruk karena dorongan anaknya yang durhaka
itu. Aku harapkan dengan matinya anak itu Allah akan mengurniai anak pengganti
yang soleh dan berbakti kepada mereka berdua."
“Sedang
mengenai dinding rumah yang ku perbaiki dan ku tegakkan kembali itu adalah
karena dibawahnya terpendam harta peninggalan milik dua orang anak yatim piatu.
Ayah mereka adalah orang yang soleh ahli ibadah dan Allah menghendaki bahwa
warisan yang ditinggalkan untuk kedua anaknya itu sampai ketangan mereka
selamat dan utuh bila mereka sudah mencapai dewasanya, sebagai rahmat dari
Tuhan serta ganjaran bagi ayah mereka yang soleh dan bertakwa itu."
"Demikianlah
wahai Musa, apa yang ingin engkau ketahui tentang tujuan tindakan-tindakanku
yang sepintas lalu engkau anggap buruk dan melanggar hukum. Semuanya itu telah
kulakukan bukan atas kehendakku sendiri tetapi atas tuntunan wahyu Allah
kepadaku."
Nabi Musa A.S. dan Qarun si kaya raya
Nabi Musa A.S. dan Qarun si kaya raya
Qarun adalah nama seorang drp kaum Nabi Musa dan
keluarganya yang dekat. Ia dikurniai Allah kelapangan rezeki dan kekayaan harta
benda yang besar yang tidak ternilai bilangannya. Sebagai tentangan bagi para
orang yang menasihatinya, Qarun makin meningkatkan cara hidup mewahnya dan
secara menyolok mempamerkan kekayaannya dengan berlebih-lebihan. Qarun yang
tidak mengabaikan anjuran orang, agar ia secara sukarela menyediakan
sebahagiaan harta kekayaannya untuk disedekahkan kepada orang-orang yang
memerlukannya, melarat dan miskin akhirinya didatangi oleh Nabi Musa
menyampaikan kepadanya bahwa Allah telah mewahyukan perinyah berzakat bagi
tiap-tiap orang yang kaya dan berada. Diterangkan oleh Musa kepadanya bahwa
dalam harta kekayaan tiap ada bahagian yang telah ditentukan oleh Tuhan sebagai
hak orang-orang yang melarat dan fakir miskin yang wajib diserahkan kepada
mereka.
Qarun merasa jengkel memerima perintah wajib
berzakat itu dan menyatakan keraguan dan kesangsian kepada Musa. Ia berkata: "Hai Musa kami telah membantumu dan
menyokongmu dalam dakwahmu kepada agama barumu. Kami telah menuruti segala
perintahmu dan mendengarkan segala kata-katamu. Sikap kami yang lunak itu
terhadap dirimu telah memberanikan engkau bertindak lebih jauh dari apa yang
sepatutnya dan mulailah engkau ingin meraih harta benda kami. Engkau rupanya
ingin juga menguasai harta kekayaan kami setelah kami serahkan kepadamu hati
dan fikiran kami sebulat-bulatnya. Dengan perintah wajib zakatmu ini engkau telah
membuka topengmu dan menunjukkan dustamu dan bahwa engkau hanya seorang
pendusta dan ahli sihir belaka."
Qarun tidak dapat jalan untuk mengelakkan diri
dan kewajiban zakat itu setelah berbantah dan berdebat dengan Musa maka ia
menyerah dan ditentukan berapa besar yang harus ia keluarkan zakat harta
kekayaannya. Fikir punya fikir dan timbang punya timbang akhirnya Qarun
mengambil keputusan untuk tidak akan mengeluarkan zakat walau apapun yang akan terjadi
akibat tindakannya itu.
Untuk menguatkan aksi pemboikotannya terhadap
kewajiban mengeluarkan zakat, Qarun menyebarkan fitnah kepada Nabi Musa dengan
maksud menarik orang agar menunjang aksinya dan mengikutinya menolak kewajiban
mengeluarkan zakat sebagaimana diperintahkan oleh Nabi Musa. Ia menyebarkan
fitnah seolah-olah Nabi Musa dengan dakwahnya dan penyiaran agama barunya
bertujuan ingin memperkayakan diri dan bahwa perintah zakatnya itu adalah
merupakan cara perampasan yang halus terhadap milik-milik para pengikutnya.
Qarun bersekongkol dengan seorang wanita yang
diajarinya agar mengaku didepan umum bahwa ia telah melakukan perbuatan zina
dengan Musa. Akan tetapi Allah tidak rela nama Rasul-Nya tercemar oleh tuduhan
palsu yang diaturkan oleh Qarun itu. Maka digerakkanlah hati wanita sewaannya
itu untuk mengatakan keadaan yang sebenarnya dan bahwa apa yang ia tuduhkan
kepada Nabi Musa adalah fitnahan dan ajaran Qarun semata-mata dan bahawasannya
Musa adalah bersih dari perbuatan yang dituduh itu.
Maka dengan izin Allah yang telah memperkenankan
doa Nabi Musa terjadilah tanah runtuh yang dahsyat di atas mana terletak
bangunan gedung-gedung yang mewah tempat tinggal Qarun dan tempat penimbunan
kekayaannya. Terbenamlah seketika itu Qarun hidup-hidup berserta semua milik
kekayaan yang menjadi kebaggaannya.
Peristiwa yang menimpa Qarun dan harta
kekayaannya itu menjadi ibrah bagi pengikut Nabi Musa serta ubat rohani bagi
mereka yang beriri hati dan mendambakan kenikmatan dan kemewahan hidup
sebagaimana yang telah dialami oleh Qarun. Mereka berkata seraya bersyukur
kepada Allah: "Sekiranya Allah telah
melimpahkan rahmat dan kurnia-Nya, niscaya kami dibenamkan pula seperti Qarun
yang selalu kami inginkan kedudukan duniawinya. Sesungguhnya kami telah
tersesat ketika kami beriri hati dan mendambakan kekayaannya yang membawa
binasa baginya. Aduhai benar-benar tidaklah beruntung orang-orang yang
mengingkari nikmat Allah."
Thalout diangkat sebagai raja Bani Isra'il
Thalout diangkat sebagai raja Bani Isra'il
Setelah Bani Isra'il memasuki Palestin dan
menguasainya di bawah pimpinan Yusya bin Nun mereka selalu menjadi sasaran
penyerbuan dan serangan dari bangsa-bangsa sekelilingnya, seperti suku Amaliqah
dari bangsa Arab, bangsa Palestin sendiri dan bangsa Aramiyin.
Pada suatu waktu datanglah bangsa Palestin
penduduk "Usydud" suatu daerah dekat Gaza menyerbu dan menyerang
mereka dan terjadilah pertempuran yang berakhir dengan kemenangan bangsa
Palestin yang berhasil, mencerai-beraikan Bani Israil dan merampas benda
keramat mereka yang bernama "Tabout", yaitu sebuah peti tempat
penyimpanan kitab Taurat.
Dan memang sejak ditinggalkan oleh Nabi Musa,
Bani Isra'il tidak mempunyai seorang raja atau seorang pemimpin yang berwibawa
yang dapat mengikat mereka di bawah satu bendera dan menghimpun mereka di bawah
satu komando bila terjadi serangan dari luar dan penyerbuan oleh musuh. Mereka
hanya dipimpin oleh hakim-hakim penghulu yang memberi tuntunan kepada mereka
dalam bidang keagamaan dan kadangkala menjadi juru damai jika timbul
perselisihan dan sengketa di antara sesama mereka. Di antara penghulu itu
terdapat seorang penghulu yang paling disegani dan di hormati bernama Somu'il.
Kata-katanya selalu didengar dan nasihatnya selalu diterima dan ditaati.
Kepada Somu'il datanglah beberapa pemuda Bani
Isra'il yang merasa sedih melihat keadaan kaumnya menjadi kacau bilau dan
bercerai berai setelah dikalahkan oleh bangsa Palestin dan dikeluarkan dari
negeri mereka serta dirampasnya Tabout yang merupakan peti wasiat dan benda
keramat bagi mereka. Mereka mengutarakan kepada Samu'il bahwa mereka memerlukan
seorang pemimpin yang kuat yang berwibawa dan mempunyai kekuasaan sebagai
seorang raja untuk menghimpun mereka dan seterusnya menjadi panglima perang.
Samu'il yang mengenal baik watak mereka dan
titik-titik kelemahan serta sifat licik dan pembangkang yang meletak pada diri
mereka berkata: "Aku khuatir bahwa
kamu akan takut dan enggan bertempur melawan musuh bila kepadamu diperintahkan
untuk berperang menghalau musuh dari negerimu." Mereka menjawab: "Bagaimana kami menolak perintah
semacam itu dan enggan maju bertempur melawan musuh sedangkan kami telah dihina
diusir dari rumah-rumah kami dan dipisahkan dari sanak keluarga kami. Bukankah
suatu hal yang memalukan dan menurun derajat kami sebagai bangsa, bila dalam
keadaan yang sedang kami alami ini, kami masih juga enggan berperang melawan
musuh yang datang menyerang dan menyerbu daerah kami. Kami akan maju dan tidak
akan gentar masuk dalam medan perang, asalkan saja kami akan dapat pimpinan
dari seorang yang cekap, berani serta berwibawa sehingga komandonya dan segala
perintahnya akan dipatuhi oleh kaum kami semuanya."
Somu'il berkata: "Jika demikian ketetapan hatimu dan demikian pula keinginanmu
untuk memperoleh seorang raja yang akan memimpin dan membimbing kami , maka
berilah waktu kepadaku untuk beristikharah memohon pertolongan Allah
menunjukkan kepadaku seseorang yang patut dan layak menjadi raja bagimu."
Dalam istikharahnya, Somu’il mendapat ilham dan
petunjuk dari Allah, agar ia memilih serta mengangkat seorang yang bernama
"Thalout" menjadi raja Bani Isra'il. Dan walaupun ia belum pernah
mendengar nama itu atau mengenalkan orangnya Allah akan memberinya jalan dan
tanda-tanda yang akan memungkinkan ia bertemu muka dengan orang itu dan
mengenalinya dengan segera.
Pada suatu hari di kala Thalout sedang sibuk bersama
ayahnya menguruskan tanah ladangnya terlepaslah dari kadang seekor keldai dari
hewan peliharaannya dan menghilang sesat. Pergilah Thalout bersama seorang
bujangnya mencari keledai yang hilang itu di celah lembah dan bukit di sekitar
desanya, namun tidak berhasil menemukan kembali hewan yang terlepas itu.
Akhirnya ia mengajak bujangnya kembali karena khuatir ayahnya akan menjadi
gelisah bila ia lebih lama meninggalkan rumahnya mencari keledai yang hilang
itu.
Berkata sang bujang kepada Thalout: "Kami sekarang sudah berada di daerah
Shuf tempat di mana Somu'il berada. Alangkah baiknya kalau kami pergi kepadanya
menanyakan kalau-kalau ia dapat
memberikan keterangan dan petunjuk kepada kami di mana kiranya kami dapat
menemukan keledai kami itu. Ia adalah seorang nabi yang menerima petinjuk dari
Tuhannya melalui para malaikat dan dia telah banyak kali mengungkapkan hal-hal
ghaib yang ditanyakan oleh orang kepadanya."
Di tengah perjalanan, mereka bertanya kepada
beberapa gadis yang ditemuinya sedang menimpa air dari sebuah perigi: "Di manakah tempat tinggal Nabi
Somu'il?" "Tidak usah kamu cepat-cepat meneruskan perjalananmu.
Somu'il sebentar lagi akan datang ke sini. Ia sedang ditunggu kedatangannya di
atas bukit oleh rakyat tempat itu." Para gadis itu menjawab.Ternyata bahwa
belum selesai para gadis itu memberikan keteranagnnya, muncullah Somu'il.
Thalout segera mendekati Somu'il dan setelah
saling pandang memandang, berkatalah Thalout: "Wahai Nabi Allah, kami datang menemui bapak untuk memohon
pertolongan yaitu dapatkah kiranya kami diberi keterangan dan petunjuk di
manakah kami dapat menemukan kembali keledai kami yang telah terlepas dari
kandang dan menghilang tidak kami temukan jejaknya walaupun sudah tiga hari
kami berusaha mencarinya."
Somu'il setelah memandang wajah Thalout dengan
teliti sadarlah ia bahwa inilah orangnya yang oleh Allah ditunjuk untuk menjadi
raja pemimpin dan penguasa Bani Isra'il. Ia berkata kepada Thalout: "Keledai yang engkau cari itu sedang
berada dalam perjalanan kembali ke kandangnya di tempat ayahmu. Janganlah
engkau rungsingkan fikiranmu dan ributkan dirimu dengan urusan keledai itu.
Kerana aku memang mencarimu dan ingin menemuimu untuk urusan yang lebih besar
dan lebih penting dari soal keledai. Engaku telah dipilih oleh Allah untuk
memimpin Bani Isra'il sebagai raja, mempersatukan barisan mereka yang sudah
kacau-balau serta membebaskan mereka dari musuh-musuh yang sedang menyerbu dan
menduduki negeri mereka. Dan insya-Allah Tuhan akan menyertaimu memberi
perlindungan kepadamu dan mengurniakan kemenangan dan kemujuran dalam segala
sepak terajangmu."
Thalout menjawab: "Bagaimana aku dapat menjadi seorang raja dan pemimpin Bani
Isra'il sedang aku ini seorang dusun anak cucu Benyamin yang paling papa,
terasing dari pengaulan orang ramai, seorang anak tani dan penggembala haiwan
yang tidak dikenal orang?"
Berkata Somu'il: "Itu adalah kehendak Allah dan perintah-Nya. Dan lebih tahu pada
siapa Ia meletakkan amanat dan tugas-tugas-Nya. Dialah yang menugaskan dan Dia
pulalah yang akan melengkapi segala kekuranganmu. Bersyukurlah engkau atas
nikmat dan kurniaan Allah ini. Terimalah tugas suci ini dengan keteguhan hati
dan kepercayaan penuh akan pertolongan dan perlindungan Allah kepadamu."
Kemudian dipeganglah tangan Thalout,
diangkatnya keatas seraya menghadap kepada kaumnya dan berkata: " Wahai kaumku, inilah orangnya yang
oleh Allah telah dipilih untuk menjadi rajamu. Ia berkewajiban memimpin kamu
dan mengurus segala urusanmu dengan sebaik-baiknya dan setepat-tepatnya dan
kamu berkewajiban taat kepadanya, mematuhi segala perintahnya dan berdiri tegak
di belakang komandonya. Bersatu padulah kamu di bawah bendera raja Thalout dan
bersiap-siaplah untuk berjuang melawan musuh-musuhmu."
Bani Isra'il mendengarkan pidato pelantikannya mengangkat
Thalout sebagai raja, tercengang dan terkejut dan dengan mulut ternganga mereka
melihat satu kepada yang lain, berpindahan pandangan mereka dari wajah Somu'il
ke wajah Thalout yang menandakan kehairanan dan ketidak-puasan dengan
pengangkatan itu.
Berkata mereka kepada Somu'il: "Bagaimana seorang seperti Thalout ini
akan dapat memimpin kami sebagai raja padahal ia seorang yang miskin yang tidak
dikenal orang dan pergaulan sehari-harinya hanya terbatas didesanya. selain itu
ia bukannya dari keturunan "Lawi" yang menurunkan para nabi Bani
Israil, juga bukan dari keturunan "Yahuda" yang menurunkan raja-raja
Bani Isra'il sejak dahulu kala. Ia pun tidak memiliki pengalaman dan kecekapan
yang diperlukan oleh seorang raja untuk mengurus serta mempertahankan
kerajaannya. Mengapa tidak dipilih sahaja seorang daripada mereka yang berada
di kota yang pandai-pandai, berpengalaman dan berkeadaan cukup?"
Berkata Somu'il menanggapi keberatan yang
dikemukakan oleh kaumnya: "Pengurusan
kerajaan dan pemimpin perang tidak memerlukan kebangsawanan atau kekayaan. Ia
memerlukan kecekapan, kebijaksanaan, kecerdasan berfikir dan kecekatan
bertindak. Sifat itu terdapat dalam dir Thalout di samping ia memiliki tubuh
yang kuat, perawakan yang tegap dan kekar serta paras muka yang tampan yang
memberi kesan baik bagi orang-orang yang menghadapinya. Selain itu semuanya, ia
adalah pilihan dan tunjukan Allah Yang Maha Mengetahui dan Maha Mengenal
hamba-hamba-Nya. Maka tidak patutlah kami memilih orang lain setelah Allah
menjatuhkan pilihan-Nya."
"Baiklah", kata mereka, "Jika yang demikian itu pilihan dan kehendak Allah, maka kami
tidak dapat berbuat lain selain menerima kenyataan ini. Akan tetapi untuk
menghilangkan keragu-raguan kami tentang diri Thalout, berilah kepada kami
suatu tanda yang dapat menyakinkan kami bahwa Thalout benar-benar pilihan
Allah."
Somu'il menjawab: "Sesungguhnya Allah telah mengetahui watak dan tabiat kamu yang
kaku dan keras kepala. Imanmu tidak berada di dalam hati tetapi di kelopak
mata. Kamu tidak mempercayai sesuatu tanpa bukti yang dapat kamu rasa dengan
pancaindera kamu. Maka sebagai bukti bahwa Allah merestui pengangkatan Thalout
menjadi raja kamu, ialah bahwa kamu akan menemukan kembali peti keramatmu
"Tabout" yang telah hilang dan dirampas oleh bangsa Palestin. Kamu
akan menemukan itu datang kepadamu dibawa oleh malaikat. Pergilah kamu keluar
kota sekarang juga untuk menerimanya."
Setelah ternyata bagi mereka kebenaran kata-kata
Somu'il dengan ditemuinya kembali Tabout yang sudah tujuh bulan berada di
tangan orang-orang Palestin itu, maka diterimalah pengangkatan Thalout sebagai
raja mereka dengan memberikan bai'at kepadanya dan janji akan taat serta
mematuhi segala nasihat dan perintahnya.
Raja Thalout
Tugas pertamanya menyusun kekuatan dengan menghimpunkan
para pemuda dan orang-orang yang masih kuat untuk menjadi tentera yang akan
mengahdapi bangsa Palestin yang terkenal kuat dan berani.
Tatkala mereka tiba di medan perang dan
berhadapan dengan musuh, sebahgian daripada pasukan Thalout ialah mereka yang
telah melanggar disiplin dan minum dari air sungai, merasa kecil hati dan
ketakutan melihat pasukan musuh yang terdiri dari orang-orang kuat dan
besar-besar dengan peralatan yang lebih lengkap dan jumlah tentera yang lebih
besar di bawah pimpinan seorang komandan bernama "Jalout".
Jalout, panglima komandan pasukan musuh terkenal
seorang panglima yang berani, cekap dan terkenal tidak pernah kalah dalam
peperangan. Tiap orang yang berani bertarung dengan dia pasti jatuh terbunuh.
Namanya telah menimbulkan rasa takut dan kecil hati pada bahagian besar dari
pasukan Thalout.
Thalout merasa kagum akan keberanian pemuda yang
telah menawarkan dirinya untuk bertarung dengan Jalout, sementara orang-orang
dari pasukannya sendiri yang sudah berpengalaman berperang tidak ada yang
tergerak hatinya untuk menyahut cabaran Jalout yang berteriak-teriak
melontarkan ejekan dan hinaan.
Sang pemuda dengan memperhatikan roman muka
Thalout dapat menangkap isi hatinya bahwa ia ragu-ragu dan bimbang untuk
melepaskannya bertarung dengan Jalout.
Tatkala Jalout melihat bahwa yang masuk
gelanggang hendak bertanding dengan dia adalah seorang pemuda remaja tidak
bersenjatakan pedang atau panah dan tidak pula mengenakan topi baja dan zirah,
dihinalah ia dan diejek.
Melihat Jalout melangkah maju, maka sebelum ia
sempat mendekatinya, sang pemuda segera mengeluarkan batu dari sakunya,
melemparkannya dengan bandul tepat ke arah kepala Jalout yang seketika itu juga
mengalirkan darah dengan derasnya hingga menutupi kedua matanya, lalu diikuti
dengan lemparan batu kedua dan ketiga oleh sang pemuda hingga terjatuhlah
Jalout tertiarap di atas lantai menghembuskan nafas terakhirnya.
Bergemuruhlah suara teriakan gembira dan
sorak-sorai dari pihak pasukan Bani Isra'il menyambut kemenangan pemuda gagah
perkasa itu atas Jalout.
4)
NABI
ISA AS
Seorang lagi Nabi
Allah yang diceritakan dari kecil di dalam al-Qur'an ialah Isa. Baginda diutus
kepada kaum Bani Israil dengan kitab Injil yang diturunkan sebelum al-Qur'an.Di
dalam al-Qur'an, Nabi Isa disebut dengan empat panggilan iaitu Isa, Isa
putera Mariam, putera Mariam, dan al-Masih
Ibunya seorang yang
sangat dimuliakan Allah. Dia memilihnya di atas semua perempuan di semua alam.
Mariam, ibu Nabi Isa, telah menempuh satu ujian yang amat berat daripada Allah.
Dia dipilih untuk melahirkan seorang Nabi dengan tanpa disentuh oleh seseorang
lelaki. Dia adalah seorang perempuan yang suci.
Kelahiran
Kelahiran Nabi Isa
merupakan suatu mukjizat kerana dilahirkan tanpa bapa. Kisahnya diceritakan di
dalam al-Qur'an. Di sini, ceritanya bermula dari kunjungan malaikat kepada
Mariam atas perintah Allah. Ketika itu, malaikat menyerupai manusia dengan
tanpa cacat. Kemunculan malaikat membuat Mariam menjadi takut.
Mukjizat
Selain daripada
kelahiran yang luar biasa dan meja hidangan, Nabi Isa telah dikurniakan dengan
beberapa mukjizat lain. Ayat berikut menjelaskannya: "Ketika Allah berkata, 'Wahai Isa putera Mariam, ingatlah akan
rahmat-Ku ke atas kamu, dan ke atas ibu kamu, apabila Aku mengukuhkan kamu
dengan Roh Qudus (Suci), untuk berkata-kata
kepada manusia di dalam buaian dan setelah dewasa ..... dan apabila kamu mencipta
daripada tanah liat, dengan izin-Ku, yang seperti bentuk burung, dan kamu
menghembuskan ke dalamnya, lalu jadilah ia seekor burung, dengan izin-Ku, dan kamu menyembuhkan orang buta, dan orang sakit kusta, dengan izin-Ku, dan kamu
mengeluarkan orang yang mati,
dengan izin-Ku' ..... lalu orang-orang yang tidak percaya antara mereka
berkata, 'Tiadalah ini, melainkan sihir yang nyata.'" (5:110)
Walaupun Nabi
Muhammad hanya diberi satu mukjizat, manusia ditegah daripada berkata bahawa
Nabi Isa adalah lebih mulia daripada Nabi Muhammad. Karena, seperti yang sudah
maklum, amalan membeda-beda para Nabi dan Rasul dilarang Allah.
Wafat
Tidak seperti
kepercayaan sesetengah orang yaitu Nabi Isa tidak wafat semasa disalib tetapi
diangkat naik ke langit. Sebenarnya, Nabi Isa telah wafat di bumi, namun bukan
disalib. Baginda telah wafat selepas peristiwa penyaliban ke atasnya di sebuah
tempat lain yang tidak diceritakan di dalam al-Qur'an. Besar kemungkinan
baginda telah melarikan diri dari tempat baginda dijatuhkan hukum.
Akan tetapi,
sebahagian daripada kaum Bani Israil mengatakan bahawa mereka telah membunuhnya
disalib. Allah mengatakan yang sebaliknya pula. Apa yang berlaku hanya satu
kesamaan sahaja
Telah wujud lagi
kepercayaan terhadap Nabi Isa yang tidak disahkan Allah di dalam al-Qur'an, yaitu
baginda akan muncul lagi di bumi buat kali kedua. Itu tidak benar.
Terpesong
Setelah Isa wafat,
beberapa perkara telah berlaku. Pertama, orang-orang yang mengaku pengikut
baginda telah menubuhkan sistem berahib, atau berpaderi, atau sistem berulama
dalam agama. Sistem itu tidak dianjurkan oleh Allah. Firman-Nya: “Kemudian, antara mereka bersetuju untuk
mengangkat Nabi Isa sebagai Tuhan atau anak Tuhan, mungkin kerana kelahiran
yang luar biasa dan mukjizat-mukjizatnya. Mereka yang berbuat demikian telah
terpesong dalam kepercayaan lalu menjadi kafir.” Firman-Nya: “Nabi Isa dan ibunya makan makanan. Tetapi
Tuhan tidak makan. Kalau Dia makan tentu Dia mempunyai sebuah "pintu
kecil" untuk mengeluarkan makanan yang tidak diperlukan lagi. Tuhan tidak
ada pintu tersebut seperti yang terdapat di bahagian belakang badan manusia
atau hewan.”
Sekiranya hujah itu
disampaikan kepada orang-orang yang mempercayai Nabi Isa itu Tuhan atau
anak-Nya, tentu mereka akan berpaling juga dan tetap dengan kepercayaan mereka.
Begitulah manusia dengan kepercayaan agamanya. Mereka lupa menggunakan akal.
5) NABI MUHAMMAD SAW
Pada waktu umat manusia dalam kegelapan dan
suasana jahiliyyah, lahirlah seorang bayi pada 12 Rabiul Awal tahun Gajah di
Makkah. Bapa bayi tersebut bernama Abdullah bin Abdul Mutallib yang telah wafat
sebelum baginda dilahirkan yaitu sewaktu baginda 7 bulan dalam kandungan ibu.
Ibunya bernama Aminah binti Wahab. Kehadiran bayi itu disambut dengan penuh
kasih sayang dan dibawa ke ka'abah, kemudian diberikan nama Muhammad, nama yang
belum pernah wujud sebelumnya.
Selepas itu Muhammad disusukan selama beberapa
hari oleh Thuwaiba, budak suruhan Abu Lahab sementara menunggu kedatangan
wanita dari Banu Sa'ad. Adat menyusukan bayi sudah menjadi kebiasaan bagi
bangsawan-bangsawan Arab di Makkah. Akhir tiba juga wanita dari Banu Sa'ad yang
bernama Halimah bin Abi-Dhuaib yang pada mulanya tidak mahu menerima baginda
kerana Muhammad seorang anak yatim. Namun begitu, Halimah membawa pulang juga
Muhammad ke pedalaman dengan harapan Tuhan akan memberkati keluarganya. Sejak
diambilnya Muhammad sebagai anak susuan, kambing ternakan dan susu
kambing-kambing tersebut semakin bertambah. Baginda telah tinggal selama 2
tahun di Sahara dan sesudah itu Halimah membawa baginda kembali kepada Aminah
dan membawa pulang semula ke pedalaman.
Kisah Dua Malaikat dan Pembedahan Dada Muhammad
Kisah Dua Malaikat dan Pembedahan Dada Muhammad
Pada usia dua tahun, baginda didatangi oleh dua
orang malaikat yang muncul sebagai lelaki yang berpakaian putih. Mereka
bertanggungjawab untuk membedah Muhammad. Pada ketika itu, Halimah dan suaminya
tidak menyadari akan kejadian tersebut. Hanya anak mereka yang sebaya
menyaksikan kedatangan kedua malaikat tersebut lalu mengabarkan kepada Halimah.
Halimah lantas memeriksa keadaan Muhammad, namun tiada kesan yang aneh ditemui.
Muhammad tinggal di pedalaman bersama keluarga
Halimah selama lima tahun. Selepas itu baginda dibawa pulang kepada datuknya
Abdul Mutallib di Makkah.
Datuk baginda, Abdul Mutallib amat menyayangi
baginda. Ketika Aminah membawa anaknya itu ke Madinah untuk bertemu dengan
saudara-maranya, mereka ditemani oleh Umm Aiman, budak suruhan perempuan yang
ditinggalkan oleh bapa baginda. Baginda ditunjukkan tempat wafatnya Abdullah
serta tempat dia dikuburkan.
Sesudah sebulan mereka berada di Madinah, Aminah
pun bersiap sedia untuk pulang semula ke Makkah. Dia dan rombongannya kembali
ke Makkah menaiki dua ekor unta yang memang dibawa dari Makkah semasa mereka
datang dahulu. Namun begitu, ketika mereka sampai di Abwa, ibunya pula jatuh
sakit dan akhirnya meninggal dunia lalu dikuburkan di situ juga.
Muhammad dibawa pulang ke Makkah oleh Umm Aiman
dengan perasaan yang sangat sedih. Maka jadilah Muhammad sebagai seorang anak
yatim piatu. Tinggallah baginda dengan datuk yang dicintainya dan bapa-bapa
saudaranya.
Abdul Mutallib Wafat
Abdul Mutallib Wafat
Kegembiraannya bersama datuk baginda tidak
bertahan lama. Ketika baginda berusia lapan tahun, datuk baginda pula meninggal
dunia. Kematian Abdul Mutallib menjadi satu kehilangan besar buat Bani Hashim.
Dia mempunyai keteguhan hati, berwibawa, pandangan yang bernas, terhormat dan
berpengaruh dikalangan orang Arab. Dia selalu menyediakan makanan dan minuman
kepada para tetamu yang berziarah dan membantu penduduk Makkah yang dalam kesusahan.
Muhammad diasuh oleh Abu Talib
Muhammad diasuh oleh Abu Talib
Selepas kewafatan datuk baginda, Abu Talib
mengambil alih tugas bapanya untuk menjaga anak saudaranya Muhammad. Abu Talib
menyayangi Muhammad seperti dia menyayangi anak-anaknya sendiri.
Pada suatu hari, ketika mereka berkunjung ke
Syam untuk berdagang sewaktu Muhammad berusia 12 tahun, mereka bertemu dengan
seorang rahib Kristian yang telah dapat melihat tanda-tanda kenabian pada
baginda. Lalu rahib tersebut menasihati Abu Talib supaya tidak pergi jauh ke
daerah Syam karena dikhuatiri orang-orang Yahudi akan menyakiti baginda
sekiranya diketahui tanda-tanda tersebut. Abu Talib mengikut nasihat rahib
tersebut dan dia tidak banyak membawa harta dari perjalanan tersebut. Dia
pulang segera ke Makkah dan mengasuh anak-anaknya yang ramai. Muhammad juga
telah menjadi sebagian dari keluarganya. Baginda mengikut mereka ke pekan-pekan
yang berdekatan dan mendengar sajak-sajak oleh penyair-penyair terkenal dan
pidato-pidato oleh penduduk Yahudi yang anti Arab.
Baginda juga diberi tugas sebagai pengembala
kambing milik keluarganya dan kambing penduduk Makkah. Baginda terhindar
daripada perbuatan yang sia-sia, sesuai dengan gelaran yang diberikan iaitu
"Al-Amin".
Selepas baginda mula meningkat dewasa, baginda
disuruh oleh bapa saudaranya untuk membawa barang dagangan Khadijah binti
Khuwailid, seorang peniaga yang kaya dan dihormati. Baginda melaksanakan
tugasnya dengan penuh ikhlas dan jujur. Khadijah amat tertarik dengan
perwatakan mulia baginda dan keupayaan baginda sebagai seorang pedagang. Lalu
dia meluahkan rasa hatinya untuk berkahwin dengan Muhammad yang berusia 25
tahun ketika itu. Wanita bangsawan yang berusia 40 tahun itu sangat gembira
apabila Muhammad menerima lamarannya lalu berlangsunglah perkahwinan mereka
berdua. Bermulalah lembaran baru dalam hidup Muhammad dan Khadijah sebagai
suami isteri.
Turunnya Wahyu Pertama
Turunnya Wahyu Pertama
Pada usia 40 tahun, Muhammad telah menerima
wahyu yang pertama dan diangkat sebagai nabi sekalian alam. Ketika itu, baginda
berada di Gua Hira' dan sentiasa merenung dalam kesunyian, memikirkan nasib
umat manusia pada zaman itu. Maka datanglah Malaikat Jibril menyapa dan
menyuruhnya membaca ayat quran yang pertama diturunkan kepada Muhammad.
Rasulullah pulang dengan penuh rasa gementar
lalu diselimuti oleh Khadijah yang coba menenangkan baginda. Apabila semangat
baginda mulai pulih, diceritakan kepada Khadijah tentang kejadian yang telah
berlaku.
Kemudian baginda mula berdakwah secara
sembunyi-sembunyi bermula dengan kaum kerabatnya untuk mengelakkan kecaman yang
hebat daripada penduduk Makkah yang menyembah berhala. Khadijah isterinya
adalah wanita pertama yang mempercayai kenabian baginda. Manakala Ali bin Abi
Talib adalah lelaki pertama yang beriman dengan ajaran baginda.Dakwah yang
sedemikian berlangsung selama tiga tahun di kalangan keluarganya sahaja.
Dakwah Secara Terang-terangan
Dakwah Secara Terang-terangan
Setelah turunnya wahyu memerintahkan baginda
untuk berdakwah secara terang-terangan, maka Rasulullah pun mula menyebarkan
ajaran Islam secara lebih meluas.
Namun begitu, penduduk Quraisy menentang keras
ajaran yang dibawa oleh baginda. Mereka memusuhi baginda dan para pengikut
baginda termasuk Abu Lahab, bapa saudara baginda sendiri. Tidak pula bagi Abu
Talib, dia selalu melindungi anak saudaranya itu namun dia sangat risau akan
keselamatan Rasulullah memandangkan tentangan yang hebat dari kaum Quraisy itu.
Lalu dia bertanya tentang rancangan Rasulullah seterusnya. Lantas jawab Rasulullah yang bermaksud: "Wahai bapa saudaraku,
andai matahari diletakkan diletakkan di tangan kiriku dan bulan di tangan
kananku, agar aku menghentikan seruan ini, aku tidak akan menghentikannya
sehingga agama Allah ini meluas ke segala penjuru atau aku binasa
kerananya"
Wafatnya Khadijah dan Abu Talib
Rasulullah amat sedih melihat tingkahlaku
manusia ketika itu terutama kaum Quraisy kerana baginda tahu akan akibat yang
akan diterima oleh mereka nanti. Kesedihan itu makin bertambah apabila isteri
kesayangannya wafat pada tahun sepuluh kenabiaannya. Isteri bagindalah yang
tidak pernah jemu membantu menyebarkan Islam dan mengorbankan jiwa serta
hartanya untuk Islam. Dia juga tidak jemu menghiburkan Rasulullah di saat
baginda dirundung kesedihan.
Pada tahun itu juga bapa saudara baginda Abu
Talib yang mengasuhnya sejak kecil juga meninggal dunia. Maka bertambahlah
kesedihan yang dirasai oleh Rasulullah kerana kehilangan orang-orang yang amat
disayangi oleh baginda.
Hijrah Ke Madinah
Hijrah Ke Madinah
Tekanan orang-orang kafir terhadap perjuangan
Rasulullah semakin hebat selepas kepergian isteri dan bapa saudara baginda.
Maka Rasulullah mengambil keputusan untuk berhijrah ke Madinah berikutan
ancaman daripada kafir Quraisy untuk membunuh baginda.
Rasulullah disambut dengan meriahnya oleh para
penduduk Madinah. Mereka digelar kaum Muhajirin manakala penduduk-penduduk
Madinah dipanggil golongan Ansar. Seruan baginda diterima baik oleh kebanyakan
para penduduk Madinah dan sebuah negara Islam didirikan di bawah pimpinan
Rasulullas s.a.w sendiri.
Negara Islam Madinah
Negara Islam Madinah
Negara Islam yang baru dibina di Madinah
mendapat tentangan daripada kaum Quraisy di Makkah dan gangguan dari penduduk
Yahudi serta kaum bukan Islam yang lain. Namun begitu, Nabi Muhammad s.a.w
berjaya juga menubuhkan sebuah negara Islam yang mengamalkan sepenuhnya pentadbiran
dan perundangan yang berlandaskan syariat Islam. Baginda dilantik sebagai ketua
agama, tentera dan negara. Semua rakyat mendapat hak yang saksama. Piagam
Madinah yang merupakan sebuah kanun atau perjanjian bertulis telah dibentuk.
Piagam ini mengandungi beberapa fasal yang melibatkan hubungan antara semua
rakyat termasuk kaum bukan Islam dan merangkumi aspek politik, sosial, agama,
ekonomi dan ketenteraan. Kandungan piagam adalah berdasarkan wahyu dan dijadikan
dasar undang-undang Madinah.
Islam adalah agama yang mementingkan kedamaian.
Namun begitu, aspek pertahanan amat penting bagi melindungi agama, masyarakat
dan negara. Rasulullah telah menyertai 27 kali ekspedisi tentera untuk
mempertahan dan menegakkan keadilan Islam. Peperangan yang ditempuhi baginda
ialah Perang Badar (623 M/2 H), Perang Uhud (624 M/3 H), Perang Khandak (626
M/5 H) dan Perang Tabuk (630 M/9 H). Namun tidak semua peperangan diakhiri
dengan kemenangan.
Pada tahun 625 M/ 4 Hijrah, Perjanjian
Hudaibiyah telah dimeterai antara penduduk Islam Madinah dan kaum Musyrikin
Makkah. Maka dengan itu, negara Islam Madinah telah diiktiraf. Nabi Muhammad
s.a.w. juga telah berjaya membuka semula kota Makkah pada 630 M/9 H bersama
dengan 10 000 orang para pengikutnya.
Perang terakhir yang disertai oleh Rasulullah
ialah Perang Tabuk dan baginda dan pengikutnya berjaya mendapat kemenangan.
Pada tahun berikutnya, baginda telah menunaikan haji bersama-sama dengan 100
000 orang pengikutnya. Baginda juga telah menyampaikan amanat baginda yang terakhir
pada tahun itu juga. Sabda baginda yang bermaksud:"Wahai sekalian manusia,
ketahuilah bahawa Tuhan kamu Maha Esa dan kamu semua adalah daripada satu
keturunan iaitu keturunan Nabi Adam a.s. Semulia-mulia manusia di antara kamu
di sisi Allah s.w.t. ialah orang yang paling bertakwa. Aku telah tinggalkan
kepada kamu dua perkara dan kamu tidak akan sesat selama-lamanya selagi kamu
berpegang teguh dengan dua perkara itu, iaitu kitab al-Quran dan Sunnah
Rasulullah."
Wafatnya Nabi Muhammad s.a.w.
Wafatnya Nabi Muhammad s.a.w.
Baginda telah wafat pada bulan Juni tahun 632
M/12 Rabiul Awal tahun 11 Hijrah. Baginda wafat setelah selesai melaksanakan
tugasnya sebagai rasul dan pemimpin negara. Baginda berjaya membawa manusia ke
jalan yang benar dan menjadi seorang pemimpin yang bertanggungjawab, berilmu
dan berkebolehan. Rasulullah adalah contoh terbaik bagi semua manusia sepanjang
zaman.
Komentar
Posting Komentar